(~●ω●)~ ~(●ω●)~ ~(●ω●~) Hello, Mari-chan is here ★★★ A cheerful, sweet, innocent and light idiot girl who loves Trafalgar Law more than anyone ♡♡♡ Trafalgar Law's Wife ♡ Fushichou Marco's Niece ★★ Sabo & Echizen Ryoga's Sister★ ★ Whitebeard Pirates & Heart Pirates ★★ Kaidou Kaoru and Momoshiro Takeshi's Bestfriend ★★ One Piece ── One Piece Live Attraction ★ Prince of Tennis ★ Hunter X Hunter ★ Death Note ★ MarcoAce is Life. MarcoAce is Love ♥ Sweet Combi ♥ Rival Pair ♥ Seigaku ★ Extremely biased towards Ishiwatari Mashu and Kimura Tatsunari ♥ Yoroshiku ♥ and welcome to my (weird) blog (ノ゚▽゚)ノ
Showing posts with label Mari and The Rival Pair. Show all posts
Showing posts with label Mari and The Rival Pair. Show all posts

Wednesday, 2 September 2015

Meet My Personal Doctor

"Apa!"

Cengiran nampak menghiasi wajah Mari saat ia melihat sosok tetangganya yang juga menjabat sebagai sahabatnya, Kaidou Kaoru, yang baru saja keluar dari rumahnya. Mari yang memang sudah stand by di depan rumah sang sahabat jelas langsung berhadapan dengannya. Dan tak lupa Mari juga langsung mendapat bentakan super darinya. Ugh. 

"Ne, Kaoru-chan tidak sibuk 'kan? Hehehe," Mari bertanya dengan pelan dan mulai mendekati sang pemuda berbandana yang masih berdiri di depan pintu.

"Fshuuuu, memangnya kenapa?" Kaidou balik bertanya, ia menatap bosan sang gadis yang kali ini sudah berdiri tepat di sampingnya dengan masih nyengir tak jelas.

"Hari ini jadwalku check up, dan tidak ada yang menemaniku... Marco-jichan masih di kantor dan Sabo-nii ada acara dengan teman-temannya... Kaoru-chan kan tidak sibuk, temani aku yah, hehe."

Hening beberapa saat sebelum desisan dari Kaidou kembali terdengar, kali ini ia juga menggaruk kepalanya, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, "Aku sibuk, Mari," jawabnya.

Bola mata hitam milik Mari memicing mendengar jawaban sang sahabat dan lagi jika dilihat dari gelagatnya sih, sahabatnya itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu.

"Hmmmm," Mari menatap sahabatnya dengan tatapan penuh kecurigaan.

"Jangan tatap aku seperti itu!" Bentak Kaidou. Bola mata gelapnya bergulir ke kanan dan kiri, enggan bertemu dengan bola mata hitam milik Mari.

"Sebentar... Kaoru-chan mau pergi yah? Eh? Ada janji dengan Momo-chii kah?" Tebak Mari sambil tersenyum jahil dan ia semakin menguarkan seringainya saat melihat Kaidou gelagapan di depannya.

"A-apa! Tidak kok! Aku hanya ingin jalan-jalan saja," elak Kaidou dengan cepat, ia menggelengkan kepalanya dan beralih menatap halaman rumahnya yang luas.

"Hoooo," gumam sang gadis, ia mengusap dagunya dan kembali menyeringai "jadi tidak ada janji dengan Momo yah? Hmmmm... ya sudah, pasti Momo tidak ada kerjaan, kalau begitu aku ajak Momo-chii saja deh," putusnya seenak jidat dan mulai berlari meninggalkan halaman rumah keluarga Kaidou.

"Heh, iya iya, aku temani!"

Smirk! 

Dalam hati Mari tertawa setan. Sahabatnya ini ternyata gampang sekali ditipu. Hahahahaha


Meet my personal doctor © Mari-chan  

Disclaimer 

Tenipuri © Konomi Takeshi 

One Piece © Eiichirou Oda 



"Kaoru-chan pernah bertemu dengan dokterku tidak?"

Gelengan kepala menjadi jawaban dari Kaidou atas pertanyaan dari Mari barusan dan itu menjadi alarm bagi Mari untuk melebarkan kedua matanya "HAH! BELUM PERNAH! MASA SIH????" Teriaknya heboh.

Kaidou mendesis dan mengabaikan protes dari Mari yang hampir membuat semua mata tertuju pada mereka, "Memangnya kenapa kalau aku belum pernah bertemu dengannya, hah?"

"Aneh."

Empat sudut berbentuk siku langsung nempel di jidat sebelah kiri dari Kaidou begitu mendengar satu kata itu, "Heh! Memangnya kau pernah mengenalkan dia padaku atau bagaimana, hah? Tidak kan? Sudah diam atau akan kutinggalkan kau sendiri!" Ancamnya dan mulai berjalan sedikit lebih cepat dari Mari.

"Mou, galaknyaaaa...." Mari mencibir, "Tapi... selama ini perasaan, aku sering bercerita padamu tentang dokterku, bahkan kau pernah bertemu dengannya kan saat ke rumahku?" ia lanjut ngoceh.

"Itu hanya perasaanmu, aku tidak tahu siapa doktermu, sudah diam!"

Kedua murid Seishun Gakuen ini akhirnya berjalan dalam diam menuju halte bus. Rumah sakit tempat Mari check up tidak begitu jauh tapi tetap saja mereka tidak mungkin ke sana dengan jalan kaki. Memangnya Kaidou mau mengambil resiko Mari pingsan di tengah jalan. Geh? Padahal dia mau menemui dokternya.

Bisa-bisa Kaidou kena sembur dokter pribadi Mari.


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


Tak sampai sepuluh menit akhirnya Mari dan Kaidou sampai di rumah sakit kota Seishun, Mari segera menuju ke tempat informasi dan menyeret tangan Kaidou untuk mengikutinya.

"Mari-chan? Tunggu sekitar lima belas menit lagi yah, Sensei sedang ada pasien," Yumiko dengan senyuman ramah memberi tahu Mari tentang jadwalnya check up. 

"Arigatou, Yumiko-nee," Mari membungkuk hormat ke arah petugas rumah sakit berwajah cantik itu dan kembali menyeret Kaidou untuk duduk di ruang tunggu.

"Hei, hei, kau dari tadi menyeretku ke sana dan sini, aku bisa jalan sendiri!"

"Aku takut Kaoru-chan tersesat!"

"Memangnya aku ini kau?"

"Apa katamu?"

"Fshuuuuu."


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


Kriiiiinnggg... 

Mari yang tengah duduk santai di ruang tunggu rumah sakit sedikit terperanjat saat ia mendengar suara ponsel dari seseorang berdering. Iapun menolehkan kepalanya dan memperhatikan Kaidou yang tengah menatap ponselnya dengan wajah aneh, "Dari siapa?" tanyanya.

Suara dari Mari sepertinya sukses menyentakkan Kaidou yang masih diam memperhatikan ponselnya. Buru-buru ia memasukkan kembali ponselnya itu ke saku celana dan beralih menatap Mari sembari menggelengkan kepalanya sok polos, "Bukan siapa-siapa," jawab Kaidou dan diakhiri desisannya.

Tapi Mari bukanlah sosok yang mudah dibohongi, apalagi dibohongi oleh seorang Kaidou Kaoru. Itu tidak pernah ada dalam kamusnya. Mari tahu benar sifat Kaidou, Kaidou itu tidak pandai berbohong! Jadi ia juga tahu kalau sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu.

Mari melirik jam di pergelangan tangannya, masih ada waktu sebelum ia menemui sang sensei, ia harus tahu apa yang disembunyikan oleh Kaidou. HARUS! 

Mari bertekad dalam hati.

Tak sampai dua menit, ponsel milik Kaidou kembali berdering dan lagi-lagi Kaidou tidak menjawab panggilan itu dan berniat kembali memasukkannya ke saku.

"Wah, telepon dari Momo-chii kah?" celetuk Mari dengan suara agak keras dan itu lagi-lagi membuat Kaidou terdiam. Wajah sang pemuda yang tadinya dipenuhi kegelisahan kini terlihat semakin mengkhawatirkan.

"A-apa! Bukan!" elak Kaidou, dan Mari berani bersumpah demi dokternya yang keren itu, Ia benar-benar melihat wajah Kaidou memerah. Serius???

"Coba sini hapemu!" pinta Mari, ia mati-matian menahan tawanya saat melihat ekspresi sang sahabat yang sangat jarang ia lihat itu. Tangan kecilnya terulur ke arah Kaidou, mengisyaratkan sang pemuda untuk memberikan apa yang ia minta.

"Hah? Sudah kubilang bukan si Idiot itu yang menelepon!" dan Kaidou pun masih mencoba mempertahankan ponselnya.

"Aku akan minta maaf pada siapapun yang meneleponmu karena kau membatalkan janji dengannya karena menemaniku, apa itu salah? Sudah berikan!" gadis tiga belas tahun ini semakin memaksa dan memberikan tatapan maut ke arah Kaidou. Tumben ia bisa seperti ini?

"Ti--"

Kriiiiinnngg! 

Dan ucapan Kaidou terhenti saat sang ponsel kembali berdering untuk ke tiga kalinya. Seringai Mari semakin mengembang saat Kaidou mengambil ponselnya dari saku dan tanpa basi-basi, Mari pun menyambar ponsel berwarna hitam milik Kaidou.

"Hei--"

"Sssssst, ini rumah sakit, dilarang berteriak, Kaoru-chan... jadi kau diam saja! Oke?"

"......."


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 



Mari cengengesan tak jelas melihat nama yang tertera pada layar hape milik Kaidou, di situ tertulis jelas siapa yang menelepon pemuda berbandana ini, meskipun nama yang terpasang di situ adalah "Idiot" tapi Mari paham seribu persen siapa yang dimaksud Idiot oleh Kaidou itu. HAHAHAHA

Piip! 

Pelan-pelan Mari menempelkan ponsel Kaidou ke telinganya, "Moshi-mo--" 

"MAMUSHI NO BAKA! KAU KE MANA SAJA HAH! BUKANKAH KITA ADA LATIHAN DOUBLES MELAWAN KAMIO DAN IBU, KENAPA KAU KABUR, SIAL!!!!!" 

Mari langsung menjauhkan sang ponsel dari telinganya saat suara seseorang dari seberang sana terdengar luar biasa marahnya. Aduh! Sekarang ia paham betul kenapa sahabatnya enggan mengangkat telepon dari makhlu bodoh itu. Ia berharap telinganya masih normal sejak ia mendengar teman sekelasnya itu berteriak tepat di telinga kanannya barusan.

Kaidou yang duduk di sampingnya mendesis pelan.

Setelah mengumpulkan kesadaran akibat serangan maut suara milik Momoshiro, akhirnya Mari kembali nenempelkan ponselnya ke telinga dan ia mendengar suara di seberang tengah ngos-ngosan. Oh, sepertinya dia marah sekali.

Eh? Sebentar, bukankah itu berarti, Kaoru-chan ada janji dengan Momo? Ooooohhh... Mari mengangguk-angguk tak jelas dan tersenyum sumringah, yah, padahal tadi dia sempat berniat menggampar Momo sih karena membuat telinganya hampir budek mendadak.

"Momo-chii, kah?" ucap Mari dengan pelan.

"....." suara di seberang telepon mendadak lenyap.

"Are? Momo-chii... halooooo..." panggil Mari lagi, kali ini dengan suara yang lebih nyaring.

"Ma-mari? Hah? Mari? Ini hape Kaidou kan? Kenapa ada padamu!" cengiran menghiasi wajah sang gadis saat mendengar suara Momo yang juga gelagapan, "hahaha, Kaoru-chan ada di rumah sakit bersamaku," jawabnya.

"Rumah sakit? Hah? Mamushi sakit? Jangan bercanda! Mana mungkin ular jejadian itu sakit, hahaha!" 

Mari mendelik mendengar kalimat super enteng dari Momo tapi mendengar itu juga, Mari jadi punya ide yang cukup bagus untuk mengerjai makhluk jabrik itu. HAHAHAHAHA

"Ne, Ahou! Kaoru-chan juga manusia! Semua manusia bisa sakit, kau tahu, tadi dia mengalami musibah saat akan pergi entah ke mana--" Mari menoleh ke arah Kaidou yang sudah mendelik tak karuan di sampingnya, mungkin Kaidou mencoba protes akan kebohongan dari Mari. Tapi Mari juga memberi kode untuk sahabatnya itu agar diam saja dan duduk manis di sampingnya.

"...." 

Setelah sibuk menenangkan sahabat ularnya, Mari kembali fokus ke Momo dan ia sedikit terhenyak saat suara di seberang telepon tidak terdengar lagi, "Momo-chii, kau masih di sana?" Tanyanya penasaran.

"....... A-aah." 

Smirk! 

Mendengar suara Momo yang seperti itu membuat Mari menyeringai. Entah berapa kali Mari menyeringai hari ini, ia benar-benar tidak menyangka akan semenyenangkan ini mengerjai Momoshiro, "Ne, jadi Kaoru-chan mau pergi menemuimu yah, uh... kasihan Kaoru-chan-ku yang malang, sensei belum keluar dari ruangannya, apa kau tidak khawatir padanya, Momo-chii?" 

"...." 

"Sensei mungkin akan menemuiku 10 menit lagi--"

Tuuuuut! 

"Are? Putus," guman Mari sok cuek, ia meringis dan mengembalikan ponsel Kaidou yang sudah berwajah merah padam di sampingnya.

"Kau!" Kaidou mendesis menahan marah--atau malu--entahlah, ia tidak paham. Yang jelas raut wajah Kaidou saat ini terlihat mengerikan. Ugh, gawat, aku bermain-main dengan ular berbisa! Matilah aku! 


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Ja-jangan marah dong, Kaoru-chan, HEHEHE," Mari perlahan mundur dari duduknya saat Kaidou mulai melemaskan jari-jarinya dan mendekatinya. SIAL APAKAH DIA AKAN MENJITAKKU? ATAU MENJEWERKU? AAAA MARCO-JICHAAAAAN! 

"Kau ini--"

"Ne, ne, memangnya kau tidak penasaran yah, Momo-chii beneran datang ke sini apa tidak? Kalau Momo-chii benar-benar menganggapmu sebagai seseorang yang penting, dia pasti akan sampai di sini kurang dari--" Mari melirik jam tangan birunya dan mengguman pelan "7 menit," lanjutnya, ia masih mencoba mengulur waktu sebelum sahabatnya itu membunuhnya.

"Memangnya aku peduli, hah?" Kaidou seakan tak termakan rayuan dari Mari dan ia terlihat semakin marah. GAWAT! 

"Ne ne ne, mau taruhan tidak, kalau Momo-chii datang ke sini kurang dari tujuh menit, Kaoru-chan harus memaafkanku, HEHEHEHE," dan ucapan Mari semakin ngaco saja.

"SIAPA PEDULI PADA SI IDIOT ITU, HAH!" Kaidou mulai mengarahkan tangannya untuk menjitak kepala Mari atau apapun itu, Mari benar-benar tidak siap menerimanya, ia menutup kedua matanya dan berteriak takut.

"AAAAAAA ADA MONSTER--"

"Mari--"

"MARI!"

Dua panggilan dari dua suara tapi memanggil satu nama itu sukses menghentikan aksi Kaidou Kaoru yang berniat melakukan apapunlah itu kepada Mari. Dalam hati Mari bersyukur dirinya masih selamat.

Lha suara tadi? 

Gadis ini perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling, senyumnya mengembang begitu melihat dua sosok yang sangat ia kenali, "Traffy!" Ia berseru saat melihat dokter pribadinya yang sudah berdiri santai di depan ruangannya.

Dan setelah itu, Mari menolehkan kepala ke sisi lain dari tempatnya duduk dan ia tersenyum lebar menatap sosok yang baru saja sampai di rumah sakit dengan ngos-ngosan, "Momo-chii!" pekiknya semangat dan ia menjulurkan lidahnya ke arah Kaidou yang hanya bisa mematung di tempat duduknya.

"He? Mamushi?" Mari mendengar dengan jelas gumaman dari Momoshiro saat melihat Kaidou yang dalam keadaan baik-baik saja, "Mari, kau mengerjaiku!" katanya geram.

"Ahahahaha... sudahlah, Momo-chii," siswi Seishun Gakuen berjalan dengan langkah super ringan ke arah Momo dan menarik lengannya guna mengajak sang pemuda ikut bergabung dengannya dan Kaidou. INI AKAN MENYENANGKAN! HAHAHAHA 

"Nani!" 

"Traffy! Bolehkah mereka ikut masuk?"


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Bagus, semuanya bagus, Mari tidak bandel, dosis obatnya akan aku kurangi."

Mari meringis mendengar ucapan dokternya setelah selesai memeriksa dirinya. Akhir-akhir ini ia memang tidak bandel sih, ia selalu menurut kata Ojisan-nya, makanya hasil pemeriksaan kali ini memuaskan dan yang lebih menyenangkan, dosis obatnya akan dikurangi. Bagus! 

Tuk! Tuk! 

"Hn?" Tarikan pelan pada lengan bajunya membuat Mari menoleh dan ia melihat salah satu sahabatnya tengah menatap dokternya tanpa berkedip, "...ada apa, Momo?" Tanyanya.

"Ne, Mari, itu doktermu? Yang benar saja?" Bisik Momo sangat pelan, ia mencoba sepelan mungkin agar manusia yang tengah mencoret-coret resep obat dari Mari itu tak mendengarnya.

"He? Iya, dia dokterku, memangnya kenapa?" Dengan polosnya Mari kembali bertanya.

"Kau gila ya, jadi selama ini dia yang merawatmu kalau sakit? Dia? Kau ini... lihat saja penampilannya, siapa yang percaya kalau dia dokter? Penampilannya mengerikan!" Ujar Momoshiro. Agak tidak sopan memang.

"Hmmm, Law-sensei tidak mengerikan kok," gumam Mari agak sedikit keras dan itu membuat sang dokter beralih menatap murid Seigaku itu.

"Baka! Dia dengar!" Pekik Momo, ia menjitak pelan kepala Mari.

"ITTAI!" dan sudah jelas Mari balas menjitak kepala Momo.

"Hentikan, baka!" Bentak Kaidou yang sedari tadi diam di tempat duduknya, ia jengkel juga ternyata karena dua makhluk di sampingnya itu tidak bisa diam barang sedetik. Dan ia juga kesal ternyata dokter yang dimaksud Mari adalah Trafalgar Law.

Kalau Law sih Kaidou sering bertemu dengannya. Ternyata Law itu dokter? Dia dokter? Tapi penampilannya tidak meyakinkan sebagai seorang dokter.

"Hmmmm, jadi, siapa yang mengerikan, hmm??" Dokter bernama lengkap Trafalgar Law itu bertanya seraya menyeringai menatap Mari dan kedua sahabatnya.

Aku merasakan perasaan aneh.


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Namaku adalah Trafalgar Law, dan iya aku seorang dokter, dokter ahli penyakit dalam dan dokter bedah," jelas Law masih dengan seringainya, "lalu, kalian berdua?" ia melirik teman-teman Mari dan alisnya terangkat saat mata gelapnya melihat sosok Kaidou, "....Kaidou Kaoru?" gumamnya.

Kaidou hanya mendesis dan membuang muka.

"..." Momoshiro masih mematung di depan meja dokter yang barusan memperkenalkan diri itu.

'Orang bodoh mana yang akan percaya kalau manusia penuh tato dan pakai tindik di telinga itu adalah dokter.' teriaknya dalam hati, dan ia lebih heran lagi menyadari bahwa dokter itu mengenal Mamushi.

Dan.... Itu juga yang Mari tebak dari ekspresi Momo saat ia memperhatikannya. Iya juga sih, kalau dipikir, dokternya memang nyentrik, ia punya tindik di telinganya, dan tangannya juga penuh tato? O.O

Sudah begitu, tato di tangannya juga seram, D.E.A.T.H. Eeerrr--agak membuat merinding juga ternyata dokternya ini.

"Se-seigaku ninen, Mo-momoshiro Takeshi desu."

"Seigaku ninen, Kaidou Kaoru, tapi sepertinya kau sudah mengenalku, Law-san."

Law menyeringai, "Kau teman sekelas Mari?"

"Traffy sudah mengenal Kaoru-chan, kan... dan Momo-chii ini juga sahabatku..." potong Mari. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Oh, itu?"

Mendengar gumaman dokter seram itu yang seolah mengerti sekali tentang cerita mereka berdua, Momoshiro dan Kaidou pun menghujani Mari dengan tatapan 'apa maksudnya itu, heh!' Tapi Mari seolah cuek dan malah kembali fokus ke sang dokter.

"Anoo, sebenarnya yah, Traffy, mereka ini penasaran," ucap Mari sambil menunjuk ke dua sahabatnya yang hanya bisa mendelik galak ke arahnya, "kenapa Traffy punya tato? Bukankah dokter itu pekerjaan yang sangat baik, tapi tato itu membuatmu terlihat seperti yakuza, ya kan, minna?" lanjutnya terlalu jujur, Ia tersenyum sok manis ke arah dua sahabatnya dan juga dokternya.

"Apa maksud kalimatmu itu, baka!" Kaidou dan Momoshiro memprotes bersamaan dan itu membuat Mari tertawa dan bertepuk tangan.

"Sasuga Rival Pair, kalian memang kompak! Hahahaha," gadis ini berteriak dengan penuh semangat. Serius minta digampar ya dia?

"Mari!!!"

"Oh, tato ini?"

Niat Kaidou dan Momoshiro untuk menjitak kepala Mari kembali terhenti saat mendengar gumaman seseorang dan itu adalah gumaman dari dokter Mari.

Sekarang Kaidou paham kenapa Mari sangat menyukai dokternya, dokter menyeramkan ini sering sekali menyelamatkan Mari dari penganiayaan yang akan dilakukan oleh orang-orang di sekelilingnya.

Oke, terlalu berlebihan memang.


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Aku membuat tato di tanganku sejak masuk fakultas kedokteran, mereka sempat menolakku tapi melihat prestasiku yang jauh di atas mahasiswa lain, mereka akhirnya mengalah, aku ini jenius," ujar Law-sensei dengan nada serius dan sedikit narsis.

"Jenius? Kenapa meragukan sih?" Mari menggumam dan sebuah kaki sukses menginjak kaki kecilnya "Hoi! Sakit!" Ia menggeram menatap Momoshiro yang barusan menginjaknya.

"Ahou! Diam deh!"

Mari menggembungkan pipinya kesal dan kembali menatap sang sensei, "Benarkah Traffy jenius? Palingan kalah sama Marco-jichan?" Celetuknya.

"Kalau aku tidak pintar, bagaimana bisa aku jadi dokter, hah! Lagipula kalau soal matematika, aku ratusan kali lebih pintar daripada Mari. Dan jangan samakan aku dengan Marco-ya, dasar bodoh."

JLEB!

Mari manyun seketika mendengar ucapan sang sensei. 

"Ppppfffftt," sementara Kaidou langsung menutup mulutnya dengan tangan saat mendengar celetukan dokter dari Mari itu, sedangkan satu orang lagi--

"HAHAHAHAHA, SENSEI, KAU BENAR SEKALI! Mari itu bodoh sekali dalam hal matematika, hahahaha--ittai!" Momoshiro langsung berhenti tertawa saat Mari mencubit pipinya dengan sangat keras, air mata juga mengalir dari matanya, "Mari, kau jahat sekali."

"Menyebalkan! Aku tidak bodoh tahu! Aku hanya kurang pintar dalam hal menghitung, caramu tertawa itu menyebalkan, Baka!" Dengus Mari, ia melipat tangannya di depan dada dengan bibir yang masih manyun.

"Kaoru-chan juga mau tertawa kan, padahal kau juga sama bodohnya dalam hal matematika!"

"Nani! Aku tidak bodoh!"

"Inui-senpai mengatakan nilai ulanganmu kemarin 4,1!"

"Lebih baik daripada nilaimu yang 3,2! Sabo-san menceritakannya padaku kemarin!"

"Nani!" 

"Kalian berdua itu sama-sama bodoh!"

"DIAM KAU! KAU YANG PALING BODOH DI ANTARA KAMI!"

Law hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan pasien kesayangannya dan teman-temannya. Ia sering melihat Mari berdebat dengan Kaidou, tapi ia tidak menyangka dengan bertambahnya Momoshiro, trio ini menjadi trio yang sangat berisik.

Tapi kemudian, dokter tampan ini teringat teman-temannya dulu, Luffy dan lainnya yang tak kalah hebohnya dari tiga orang ini, ternyata di mana-mana yang namanya makhluk berisik itu ada. Law membatin pasrah.

"Sudah sore, kalian tidak pulang?" Ucap Law, sebenarnya dia berniat mengantar Mari pulang, tapi Mari sedang bersama dua sahabatnya, pasti akan terlihat aneh jika Law hanya mengajak Mari.

Dan lagi, bisa-bisa dua sahabatnya itu mengatakan hal-hal lain kepada Marco-ya, ia bisa berada dalam masalah.

"EH? EEEEEHHHHH???"

BAKA! 

(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Aku heran kenapa Law-sensei bisa jadi dokter dan jadi dokter kesayanganmu pula!" Momoshiro bertanya kepada Mari dengan nada heran setelah mereka bertiga keluar dari rumah sakit dan kali ini tengah berjalan menuju rumah Mari. Iya, sudah pasti dia sedang mengantar Mari pulang.

"Soalnya dia keren! Agak galak sih tapi sebenarnya beliau baik! Iya, seperti Kaoru-chan, hehehe," jawab sang gadis, mata hitamnya berkilat entah karena apa dan ia juga meringis kaku ke arah Kaidou.

"Che!" Respon Kaidou singkat. Ah, tsundere, pasti dalam hati ia senang dipuji oleh Mari. Siapa lagi yang mau memujinya kecuali sahabat gadisnya ini? Eh?

"Seperti siapa?" Momoshiro berteriak tak terima sebelum kemudian tertawa mengejek, "HAHAHAHA JANGAN MEMBUATKU TERTAWA! Mamushi baik dari mananya?" katanya di sela tawanya yang terdengar menjengkelkan.

"Fshuuuuu, apa katamu!" Kaidou yang sepertinya tak terima akan ucapan Momoshiro pun mulai terpancing. Ia mendekati Momoshiro dan menyiapkan tangan kanannya untuk memberi hadiah pada pemuda jabrik itu.

"Ah, dasar tsundere," potong Mari, ia berjalan mendekati keduanya dan menjauhkan Kaidou dari Momoshiro, "kalau ada Kaoru-chan kau selalu mencari masalah tapi saat dia tidak ada kau khawatir setengah mati, khukhukhu," katanya jahil.

"A-apa katamu! Siapa yang khawatir pada si bodoh itu, hah!" Momoshiro menunjuk Kaidou dengan emosi, wajahnya juga terlihat merah. Hmmm, entah itu merah karena marah atau blushing? 

"Siapa yah???" Mari menolehkan kepalanya ke arah Kaidou yang sudah memalingkan wajah darinya, siswi kelas dua ini tersenyuk lucu melihatnya sebelum kemudian berjalan pelan meninggalkan kedua sahabatnya, "Aaaahh... aku baru ingat, saat aku mengatakan Kaoru-chan mengalami masalah, kau langsung berlari dari street tennis dan langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaannya kan? KYAAAAAAAA... MOMO-CHII KAWAAAIII~ Padahal musibah yang dia alami adalah aku yang menyeretnya ke rumah sakit sehingga ia gagal menemuimu. Itu musibah kan yah?"

"....." Momoshiro pun sukses mematung.

"....." dan hal yang sama juga terjadi pada Kaidou.

Momoshiro menggelengkan kepalanya dan menepuk kedua pipinya lucu sebelum kembali mencoba protes ke Mari, "Heh, itu karena kau bilang--" dan kalimatnya terhenti saat ia mengingat sesuatu, "MARIIIIII.... KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN! KAU MENIPUKU!"

"Salah sendiri mau ditipu, hehehe," celetuk Mari sambil menjulurkan lidahnya ke arah Momoshiro yang terlihat semakin merah padam. Dan gadis ini segera mengambil langkah seribu untuk menjauhi Momo yang siap ngamuk kapan saja.

"KAAAAAAUUUU..... JANGAN LARI KAU, HEEEEEEIII!!!"

Kaidou mendesis melihat Mari yang berlari menjauh dari Momoshiro dan Momoshiro yang berteriak mengerjarnya, "Dasar, seperti anak kecil saja!" gumamnya, tapi sedetik kemudian ia tersenyum saat ia mengingat semua ucapan Mari tadi, "Idiot."

Ah dasar pemuda satu ini. Bilang saja ia senang karena Momoshiro mengkhawatirkannya. LOL


The End! 


WAHAAAAAAAA RAMPUNG WOI! RAMPUUUNNGG!!!!!

ADA YAH! LAW JADI DOKTERNYA MARI DAN KETEMU SAMA MOMOKAI! HAHAHAHAHA INDAHNYA DUNIA IMAJINASIKU! #digaplok

Aiihh... Momo-chii manis banget sih aaaahh... khawatir sama Kaoru-chan sampe sebegitunyaaaaa... yhaaaa... HAHAHAHA SASUGA OTP SAYA!!!! Padahal belum dijelasin sama Mari musibahnya apaan, tapi dia langsung ke rumah sakit begitu. HAHAHAHAHAHA ADORABLE BANGET SIH >/////< *banting* #WOI
MomoKai 
Ugh... ugh... ugh... entah mau ngomong apa lagi... makasih buat yang udah baca...

TUMBEN A/N NYA KAYAK GINI DOANG, BIASANYA DIA BERISIK!!! #EH

Sudah gitu doang lah... bye byee~

Saturday, 11 April 2015

Yamabuki's Craziness


"Ke Yamabuki Chuu?????"

Momoshiro berteriak kaget saat teman sekelasnya dengan wajah super memelas tiba-tiba meminta dirinya menemani ke Yamabuki nanti sepulang sekolah. Ia tahu kalau hari ini tak ada kegiatan klub makanya gadis yang menjabat juga sebagai sahabatnya itu meminta bantuannya siang ini.

Sementara gadis yang memintanya itu langsung mengangguk meskipun raut memelasnya tetap terpeta dari wajah dan itu demi apapun benar-benar membuat Momoshiro ingin tertawa tapi ia mencoba menahannya karena sepertinya kali ini temannya itu tidak main-main dan benar-benar membutuhkan bantuannya.

"Ada apa memangnya dengan Yamabuki?" pemuda bermata ungu itu akhirnya bertanya karena penasaran, ya, jelas saja ia penasaran... karena tidak biasanya sahabatnya yang super cerewet dan kadang merepotkan banget ini menyebut nama sekolah itu.

Mari—gadis yang memintanya tadi menghela nafas pendek dan manyun sejenak sebelum memutuskan untuk duduk di samping Momoshiro, ia menggumam tak jelas dan akhirnya menatap mata ungu milik sang sahabat.

"Hng? Doushite?"

"Jadi—kemarin aku membeli sesuatu—eerr—hehehe," gadis itu mulai bercerita tapi ia berhenti dan nyengir sejenak ke arah Momoshiro yang hanya bisa mengangkat alis, "Saat perjalanan pulang dari toko itu, tidak sengaja aku menabrak seseorang—"

"Nabrak, iya, itu sangat Mari sekali," potong Momoshiro dengan cepat, ia memutar matanya bosan.

"Moouuu... dengarkan duluuu...." sembur Mari tak terima.

"Hai, hai, lalu?" akhirnya Momo pun mengalah, ia kembali memasang telinganya baik-baik guna mendengar lanjutan cerita Mari.

"Pas itu tas belanjaanku dan tas belanjaan milik orang yang kutabrak itu berserakan di jalanan... dan karena malu dilihat banyak orang, akhirnya aku buru-buru mengambil tas belanjaan—yang kuyakini adalah milikku dan langsung pergi dari tempat itu."

"...." Momoshiro mengangguk-anggukan kepalanya sok paham saat mendengar cerita Mari, "Lalu? Apa masalahnya?" tanyanya entah untuk yang ke berapa kalinya.

"Nah, masalahnya ya setelah ituuu... saat aku sampai di rumah dan membuka belanjaanku, barang yang kubeli tadi jadi lain... huhuhu... dan saat aku kembali ke toko itu bersama Kaoru-chan dan mencari tahu tentang barang yang ada di tanganku, sang penjaga toko mengatakan barang itu pesanan dari salah satu pelanggan mereka yang bernama Higashikata Masami."

"....."

"Dan, Oishi-senpai mengatakan kalau Higashi—siapa tadi, yah itulah, ternyata siswa Yamabuki Chuu," Mari menutup ceritanya dengan helaan nafas panjang, "Nah, jadi begi—"

"Bhahahahahaha.... ahahahahahahaha," dan suara tawa dari Momoshiro pun memenuhi ruang kelas 2-8, ia memukul meja dengan tangannya berkali-kali dan masih saja tertawa.

"Moooooooouuuu... Kau ini puas sekali sih tertawanya, tidak lucu tahu!" bentak sang gadis tak terima.

Momoshiro berusaha sekuat tenaga menahan tawanya dengan menutup mulut tapi saat melihat wajah Mari yang tengah manyun dengan dua tangannya yang ia posisikan di pinggang itu mau tak mau membuatnya kembali tertawa dan akhirnya jitakan pun mendarat di kepala jabriknya dan sukses membuat tawanya berhenti, "Ittai!" pekiknya.

"Ih, Momo-chii menyebalkan!!!"

"Go-gomen gomen... ppfffttt—" Momoshiro mengusap kepalanya yang baru saja mendapat hadiah kecil dari sang sahabat dan kali ini ia nyengir kaku menatap gadis di depannya yang masih mengerucutkan bibir, "Hei, hei, aku hanya bercanda, jangan cemberut begitu dong, jelek tahu," ucapnya berusaha menghibur.

"Urusai!"

"Hai, hai, eh, tunggu... kenapa kau tidak meminta bantuan Mamushi sejak awal?" sang reguler Seigaku menggaruk pipinya, tak habis pikir juga, kan ada Kaidou?

Helaan nafas kembali terdengar dari Mari dan itu sedikit membuat Momoshiro bingung, gadis ini sering sekali menghela nafas yah?

"Reaksi Kaoru-chan tak ada bedanya denganmu."

Mendengar suara sang sahabat yang terlalu ngenes itu kembali membuat tawa Momoshiro yang sempat ditahannya meluncur mulus dari mulutnya, ia benar-benar tertawa sekarang ini, tak peduli ia akan mendapat pukulan atau jeweran dari Mari nantinya tapi ia benar-benar tidak bisa menahannya lagi.

"MOOOOOOOOOOOOOUUUUU.... MOMO-CHII NO AHOU!!!!!!!"


The Prince of Tennis: Takeshi Konomi 

Yamabuki's Craziness: Mari-chan  


"Hhh...." Mari benar-benar frustasi sekarang. Di tangannya ada tas berisi jaket pesanan dari siswa Yamabuki itu yang namanya sangat susah untuk diingat olehnya. Dan saat ini juga, ia tengah berjalan dengan tenang menuju sekolah orang tadi bersama dua sahabatnya, Kaidou Kaoru dan Momoshiro Takeshi. 

Tunggu, bukannya ia tadi hanya mengajak Momo? Lalu kenapa Kaoru-chan juga ikut?

Yah, saat tadi ia bertanya pada pemuda berbandana itu sih, ia menjawab karena pergi bersama Momoshiro itu penuh resiko dan ia tidak mau mau sesuatu yang buruk terjadi karena sudah jelas kalau terjadi sesuatu padanya, maka Kaidou lah orang pertama yang akan kena sembur dari Marco-san. Bukan hanya Marco-san, tapi juga Sabo-san, Shirohige-jiisan, Trafalgar Law dan ibunya sendiri, karena ia tidak bisa menjaga Mari

Alasan. batin Mari sweatdrop. 

Tapi baguslah, setidaknya ia merasa lebih aman bersama dua sahabatnya di sisinya.

Jujur, sebenarnya Mari tidak begitu ingat yang mana di antara anak-anak Yamabuki yang memiliki nama eerr—Higashikata—kalau tidak salah. Dan lagi, Yamabuki... ugh, sekolahnya orang genit itu... dan jangan lupakan Akutsu Jin yang juga bersekolah di sana.

Apakah semuanya akan baik-baik saja? Mari sedikit khawatir, ya bagaimanapun juga, kegagalan Yamabuki menjuarai Kejuaraan tingkat daerah juga karena kalah dari Seigaku. Jangan-jangan si Akutsu itu masih marah... hiiieeee...

Tuk!

Tepukan sekaligus usapan pelan di kepala sukses menyentakkan Mari dari lamunan singkatnya tentang anak-anak Yamabuki. Ia sedikit kaget sih, tapi ia sudah tahu siapa yang menepuk kepalanya.

Gadis ini pun menolehkan kepalanya ke sisi kanan di mana terdapat satu sosok yang baru saja menepuk kepalanya itu dan ia menggumam lirih, "Kaoru-chan?"

"Fshuuu... semuanya akan baik-baik saja," ujar Kaidou dengan nada tenang tanpa sedikitpun menatapnya dan Mari perlahan menguarkan senyumnya. Aaaah, cara sahabatnya ini menenangkan dirinya memang tak pernah berubah sejak mereka kecil.

"Ne, ne, ada aku juga loh, jangan lupakan itu." sahut Momoshiro yang ikut-ikutan mengepalkan tangannya seraya nyengir lebar.

Ahahaha, dua sahabatnya ini memang paling bisa diandalkan.

"Hai!" sahut Mari ceria.

********* 

***

********* 

Yamabuki Chuu 

Mari, Kaidou dan Momoshiro saling bertatapan saat ketiganya berada di depan gerbang sekolah yang bertuliskan Yamabuki itu. Mereka sudah sampai. Haruskah mereka masuk? 

Entah kenapa pikiran-pikiran aneh kembali menguasai otak Mari. Ia jarang sekali mengunjungi sekolah lain—satu-satunya sekolah yang pernah ia kunjungi adalah sekolah sang kakak—karena itu ia merasa sedikit—gugup. 

"Ayo masuk," ajak Momo, ialah yang pertama kali memasuki area Yamabuki dan diikuti oleh Kaidou. 

Buru-buru Mari mempercepat langkah untuk mengejar kedua sahabatnya itu. Mata hitamnya mulai memperhatikan sekolah yang baru saja ia masuki ini. 

Yamabuki Chuu memiliki gedung sekolah yang bagus, halamannya juga luas seperti halnya Seigaku. Tempat parkir pribadi milik para sensei juga luas. Sekolah ini terlihat nyaman. 

"Ne, bagaimana cara kita mencari Higashikata-san?" tanya Momo, ia masih berjalan dengan pelan menuju bangunan sekolah, mata ungunya juga belum beralih dari area Yamabuki yang nampak asing baginya. 

"Fshuuu, baka, Oishi-senpai mengatakan Higashikata-san itu anggota klub tenis, sudah jelas kita pergi ke lapangan tenis, fshuuu," jawab Kaidou. 

"Nani! Aku sudah tahu itu, Mamushi, maksudku, di mana letak lapangan tenisnya, baka!" Momoshiro berujar dengan nada yang mulai meninggi, ia menatap sang Rival dengan tatapan kesal. 

"Mana kutahu, ini kan pertama kalinya aku ke sekolah ini, Idiot!" balas Kaidou.  

"Nani? siapa yang kau panggil idiot!" dengan cepat Momoshiro menarik kerah baju milik Kaidou dan secara insting Kaidou juga melakukan hal yang sama. 

Perang deathglare pun tak terhindarkan, kenapa sih kedua orang ini mudah sekali tersulut emosi jika sudah terlibat obrolan? mungkin perkelahian keduanya akan berlanjut jika saja mereka tidak mendengar suara seseorang yang berteriak ke arah mereka. 

"Berhenti!!" 

Suara itu semakin terdengar jelas dan kedua junior Seigaku inipun akhirnya melepaskan kerah baju milik rival-nya saat sosok yang tadi berteriak itu mulai mendekati mereka. 

"Berhenti, desu!

Desu? 


********* 

*** 

********* 

"Nanda, Seigaku ka?" gumam seorang pemuda bertubuh kecil dan membawa sebuah buku berwarna biru di tangannya. Pemuda itu terlihat ngos-ngosan saat sampai di depan Momoshiro dan Kaidou. 

"Are?" pekik Momoshiro, ia memutar otaknya saat melihat sosok di depannya. Sosok di depannya ini tidak asing, ia ingat pernah melihatnya, tapi di mana? "Kau 'kan?" ia menggumam tak jelas. 

"Dan Taichi, desu, hai!" sahut pemuda dengan surai hitam kehijauan itu. Ia membungkukkan badannya ke arah Momo dengan sopan.

"Ah iya, Dan.. kau yang pernah bertanding melawan Echizen itu kan?" tanya Momoshiro lagi, ternyata memori otaknya lumayan juga. 

"Hai!" jawab Dan semangat. 

Dan saat Momoshiro masih sibuk dengan Dan, ia tidak menyadari gelagat aneh dari rival-nya—Kaidou—pemuda empat belas tahun itu dari tadi menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. 

"Lalu, kenapa kau berteriak tadi?" itulah pertanyaan yang harusnya Momoshiro tanyakan sejak pertama kali melihat Dan... bukannya melenceng ke Echizen segala. 

"Ah, hai! Sebenarnya akhir-akhir ini di sekitar sini ada rumor tentang penculikan desu... saya takut kalian itu para penculik itu, makanya saya menghentikan kalian, desu, hai!

Ini kok lama-lama kurang ajar yah? O.O 

Mendengar jawaban dari siswa Yamabuki kelas satu itu sedikit membuat emosi Kaidou meninggi, ia mendesis guna menahan emosinya, "Tapi kami bukan penculik," katanya geram. Ia kembali melihat ke sekelilingnya, terlihat raut khawatir juga dari wajahnya yang biasanya tenang. 

Bicara soal penculik... Ini sedikit membebani pikirannya sejak tadi... ia baru sadar kalau sahabatnya menghilang sejak ia mulai berkelahi dengan Momoshiro. Jangan-jangan benar di sini ada penculik dan penculik itu menculik Mari? 

Tapi sedetik kemudian Kaidou menggelengkan kepalanya, tidak mungkin. mana ada penculik yang mau menculik gadis cerewet dan super merepotkan macam Mari. Dalam Hati, Kaidou tertawa setan. 

JAHAT BANGET SUMPAH PIKIRANNYA KAORU-CHAAAN!!! OAO 

"Anoo—Kaidou-san mencari siapa desu?" 

Kaidou menatap Dan dengan pandangan akhirnya-kau-sadar-juga-kalau-aku-mencari-sesuatu. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan siapa yang tengah dicarinya sebelum ucapannya terpotong karena teriakan dari seorang. 

"EEEEEEEEEEHHHH??? DI MANA MARI???? JANGAN-JANGAN BENAR ADA PENCULIK DAN DIA MENCULIK MARI???" Momoshiro berteriak kencang saat menyadari sosok sahabatnya sudah tidak ada di sekitar mereka lagi. 

"Mari itu siapa desu, dari tadi saya hanya melihat kalian desu." 

KRIK!!!!! 

********* 

*** 

********* 

Seorang gadis kecil bersurai hitam panjang dan mengenakan jaket klub tenis Seigaku yang agak kebesaran terlihat berjalan dengan pelan menyusuri lorong-lorong kelas di Yamabuki. Ia menoleh ke kanan dan kiri tapi yang ia lihat hanya ruang kelas. 

Jadi, sudah bisa dipastikan kalau gadis ini nyasar di dalam sekolah. 

Bagus! 

Dan lagi, sejak kapan ia sudah ada dalam gedung sekolah? Padahal kan tadi ia berniat mencari lapangan tenis tapi kenapa jatuhnya ia malah berakhir di sini? Ce-cepat juga dia berjalan kalau buta arahnya kambuh. Jelas cepat, lha wong dia jalannya tanpa arah begitu. 

"Keren.. nyasar di sekolah orang lain... ya, tapi itu lebih manusiawi sih daripada nyasar di sekolah sendiri," Mari menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat ia ingat bahwa dirinya juga pernah nyasar di sekolahnya sendiri. memang parah sekali gadis ini. 

"Bagaimana ini?" gumamnya lesu. Ia terpisah dari dua sahabatnya dan ia juga tidak tahu berada di bagian mana dalam gedung sekolah ini. Dan yang terpenting, ia tidak mengenal satupun siswa-siswi Yamabuki, bagaimana caranya ia menemukan Higashi--itulah. Oh, Kami-samaa.... aku hanya ingin mengembalikan jaket, jangan siksa aku seperti ini. 

"Yosh, sudah kuputuskan!" Mari tiba-tiba mengepalkan tangannya, ia menyingsikan lengan jaket milik Kaidou yang ia pakai sejak pulang sekolah dan berujar lantang, "Aku akan bertanya tentang Higashi--siapapun itu namanya kepada orang yang pertama kali kutemui di sekolah ini. SEMANGAT MARI!!" Ucapnya. Kau masih waras 'kan, Nak? 

"Tapi, Kaoru-chan dan Momo-chii ke mana yah? Mereka jalannya lambat sekali padahal kan laki-laki... atau jangan-jangan mereka berkelahi? Ah, payah..." gadis ini mulai ngoceh tak jelas dengan masih menyeret langkahnya guna mencari satu sosok untuk ia tanyai. Satu sosok. 

Yah, berharap saja satu sosok yang akan ia temui nanti bukanlah Sengoku-san, apalagi Akutsu— 

Bruk! 

"Ittai!" Mari memekik kesakitan saat tubuh kecilnya tiba-tiba menabrak pintu, eerr-dinding? Eh, ia menabrak apa yah? Ia tahu kalau ia juga sering nabrak tapi perasaan tadi di depannya tidak ada pintu deh, apalagi dinding, masa iya ia jalannya tiba-tiba berbelok sendiri? 

"Hoi, kalau jalan pakai mata—Ha, Seigaku?" 

"......." bulu kuduk Mari meremang saat ia mendengar suara berat dan terkesan horor itu. Berarti yang ia tabrak tadi bukan pintu.. Iyalah, mana ada pintu yang bisa bicara? 

Sepertinya ia pernah mendengar suara sejenis ini sebelumnya, tapi di mana? Otak Mari yang sangat susah untuk mengingat pun dipaksa untuk memutar seluruh memorinya dan akhirnya ia mengingatnya. Ia mendengar suara ini saat pertandingan semifinal turnamen nasional, saat Taka-san bertanding melawan Ishida Gin-san dari Shitenhouji. 

Dan itu suara--

GLEK! 

Mari menelan ludahnya, sekujur tubuhnya merinding saat ia mendapatkan satu nama yang sangat cocok dengan suara itu. Akutsu Jin. HIIIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEE... Eh, tunggu dulu, kenapa ia bisa tahu kalau dirinya siswi Seigaku. 

'Sial.' 

Gadis tiga belas tahun ini sukses mengutuk dirinya sendiri dan juga sang sahabat yang dengan senang hati memaksanya memakai jaket Seigaku Reguler miliknya. Oh... bagus sekali... kebaikan hati dari pemilik tekhnik snake itu lama-lama menjadi boomerang juga bagi dirinya. Mari ingin menangis. 

"Sedang apa siswi Seigaku ada di Yamabuki?" 

Suara itu terdengar lagi dan demi rambut Momoshiro yang jigrak dan aneh, Mari benar-benar merasa kalau dirinya sedang ditanyai oleh malaikat maut T_T ia merasa kalau suaranya juga sama takutnya dengannya sehingga suaranya tidak mau keluar dari kerongkongannya dan bersembunyi entah di mana. Mari yang kesulitan menemukan di mana suaranya akhirnya hanya bisa diam. Ia masih duduk di lantai lorong kelas. 

Ia bukannya tidak mau bangun, tapi ia terlalu takut untuk bertatap muka dengan pemuda tinggi dengan rambut jabrik itu. Tapi tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Kalimat yang ia ucapkan tentang orang yang ia temui itu dan juga--

OH NO! Apakah ini berarti, dia harus bertanya pada Akutsu Jin? 

Gawat, ini gawat, ini gawat! Demi Inui-senpai dan jus-jus absurd buatannya, demi Tezuka-senpai dan hukuman larinya yang kadang tidak masuk akal. Ia rela keliling lapangan tenis Seigaku ratusan kali dan meminum Penal Tea atau Aozu setelahnya oh ralat, maksudnya, ia akan meminta bantuan Kaoru-chan dan Momo untuk lari dan Fuji-senpai untuk meminum Penal Tea-nya daripada melakukan hal itu. Ia bisa mati berdiri karena takut! 

MARCO-JICHAAAAAAAAAAAAAN!

"Oi!" 

Tepukan pelan mendarat di pundak kecil sang gadis yang masih terduduk lemas di lantai, dan saat ia tahu benar siapa yang tengah menepuknya, Mari pun spontan menjerit karena kaget dan takut, "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA-MPPHHH!" tapi jeritannya tak bertahan lama karena tangan milik Akutsu segera membekap mulutnya. 

"Heh, kau ini berisik sekali, aku tidak akan melakukan apapun padamu, keh," dan Mari merasakan tangan Akutsu yang sedari tadi membekapnya sedikit demi sedikit melepaskannya. 

"Kau kouhai-nya Kawamura 'kan?" 

Mendengar Akutsu menyebut nama salah satu senpai-nya membuat perasaan takut Mari perlahan sirna dan ia pun mulai menguasai dirinya sendiri. Gadis ini mulai bangkit dari jatuh duduknya dan kali ini ia berdiri tepat di depan Akutsu. 

"Heh, kau ketakutan sampai wajahmu pucat atau apa, hah?" 

"I-ie, aku baik-baik saja, hai!" Mari menjawab dengan cepat dan membungkukkan badannya entah karena apa. 

"Hahahahahahaha." 

"...." gadis kelas dua Seishun Gakuen ini sukses menganga begitu melihat sosok Akutsu yang malah tertawa di depannya. Hah, apa yang terjadi? Kenapa dia tertawa seperti itu? KAORU-CHAN, MOMO-CHII TOLONG AKUUU!! 

********* 

*** 

********* 

"Hehehehe.... hehehehe," Mari pasti terlihat seperti orang gila sekarang. Ia nyengir-nyengir tak jelas di sepanjang lorong kelas yang tadinya ia jajaki sendirian dan kali ini ia tidak sendirian. Ia berjalan bersisian dengan pemuda tinggi dengan rambut aneh dan keliatan galak itu. Di sekeliling mereka, anak-anak Yamabuki memperhatikan tanpa berkedip. 

Mungkin mereka heran, dan berpikir 'Siapa anak kecil yang bersama Akutsu dan mengenakan jaket kegedean itu?' ya lah, terserah kalian. 

"Anoo--Akustu-san?" 

Jiitt! 

Tatapan tajam dari sosok yang baru saja dipanggil itu menghujani Mari, gadis bersurai hitam panjang ini menelan ludahnya gugup dan menundukkan kepala sejenak. Ugh, ia sudah sering mendapat tatapan tajam dari Kaoru-chan, tapi yang ini lain. Marco-jichaaaaan tolong Mari... 

Tapi ia sudah bertekad 'kan? Ia bertemu dengan Akutsu Jin, mungkin saja dia bisa membantunya mengembalikan jaket di tangannya ini. Dan lagi, ingatlah sebuah pepatah, Mari... Malu bertanya maka kau tidak akan bisa pulang. ITU PEPATAH DARI MANA!!! 

"Nani!" Akutsu menjawab datar. 

Oh, runtuh sudah tekad Mari yang hanya sebesar biji jagung, ia benar-benar ingin menangis. Huhuhu... Orang di depannya ini sangat menyeramkan, mendengar suaranya saja sudah membuatnya merinding begini. 

"Ettoo," gadis ini mengusap helaian hitamnya karena gugup, ia masih belum berani menatap Akutsu, "Se-sebenarnya saya sedang me-mencari seseorang yang bernama--eerr--" sebentar, tadi siapa nama orang yang ia cari yah? OH BAGUS, SEKARANG IA MELUPAKAN NAMA ORANG YANG SANGAT INGIN IA TEMUI DI YAMABUKI! 

"....." 

Hening tercipta. Mari masih sibuk mengutuk kinerja otaknya yang tiba-tiba melambat karena ketakutan dan Akutsu yang juga masih diam. Entah dia diam karena apa? Mari jelas tidak tahu. 

"Kau ini merepotkan, ayo ikut aku!" ujar Akutsu setelah sempat diam tadi, ia berjalan dengan cepat dan meninggalkan Mari yang masih bengong di tempatnya. Gadis ini memperhatikan punggung tegap Akutsu yang mulai menjauhinya. 

"Heh, Kouhai-nya Kawamura, kau dengar tidak?" 

"Eh, ha-hai!" Mari pun menyusul langkah Akutsu yang berada tak jauh di depannya. 

Sebenarnya ia mau diajak ke mana? OAO 

********* 

*** 

********* 

Otak Mari seakan dipaksa keluar dari kepalanya saat semua hal yang membingungkan ini terjadi padanya. Saat ini, ia tengah berdiri di depan sebuah ruangan yang sepertinya ruang siaran. Di sampingnya masih ada Akutsu Jin yang berdiri tenang dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celananya. 

"Ini--" Mari menggumam heran. 

"Kau mencari seseorang 'kan, di dalam ada yang bisa membantumu, cepat masuk!" kata Akutsu dengan nada agak keras. 

"Di-di dalam?" ulang Mari. 

"Cepat masuk!" teman masa kecil dari salah satu senpai Mari itu kembali memerintah dan tanpa membuang waktu lagi, Mari pun mengangguk paham dan segera mendekat ke arah pintu ruang siaran. 

"A-arigatou, A-akutsu-san, hehehe." 

"Jangan tersesat lagi," setelah mengatakan hal itu, Akutsu pun berjalan santai meninggalkan Mari yang kembali bengong. Heh, awas kesambet. 

"Akutsu-san baik juga ternyata," junior Seigaku ini menggumam lirih dan ia membungkukkan badannya sejenak ke arah menghilangnya Akutsu dan mulai mengetuk pintu ruang siaran. 

"Masuk." 

********* 

*** 

********* 

"Konnichiwa... nama saya Fujisaki Mari... gomen mengganggu, tapi saya benar-benar butuh bantuanmu," ucap Mari begitu ia menemukan sosok pemuda tengah duduk di sebuah kursi dengan monitor dan alat siaran lainnya di depannya. 

"Seigaku?" pemuda itu menggumam saat melihat pakaian yang dikenakan oleh Mari. 

"Hai, hai, saya siswi Seigaku," sergahnya bosan. Terkenal sekali sih sekolahnya ini. 

"Lalu, ada masalah apa?" pemuda yang mengenakan kacamata google itu bertanya dengan datar dan mulai mengutak atik apapun itu tombol di depannya. 

"Jadi, saya kemari ingin memberikan jaket milik salah satu siswa di sini, kemarin saya tidak sengaja menabraknya dan membawa pulang jaketnya, bisa minta tolong carikan orang itu kan? Ah, saya baru ingat kalau saya melupakan namanya, hehehe." 

"......" 

"Summimasen... saya benar-benar tidak ingat, ugh... saya bertaruh semuanya pasti salah Akutsu Jin, karena dia saya lupa nama pemilik jaket ini, tapi namanya memang susah sih, ahahaha." 

PLAK! 

Pemuda yang bahkan belum Mari ketahui namanya itu memukul pipi kanannya sendiri. Kenapa dia? O.O 

"Eh? dajobu desu ka? jangan memukul dirimu sendiri, eh?" siswi Seigaku ini berujar khawatir, pasalnya baru kali ini melihat seseorang memukul dirinya sendiri, ia sering melihat Kaoru-chan dan Momo-chii berkelahi tapi mereka kan tidak memukul diri sendiri? Lha ini? 

Hei, hei, kau pikir ini salah siapa? 

"Ne, ne, kau bisa membantuku 'kan? Err--" 

"Muromachi Touji, kelas 2." 

Wajah Mari langsung berbinar mendengar ia menyebutkan namanya dan juga kelasnya, apalagi dia sesama junior sepertinya, ini akan menyenangkan... 

"Waiii... sama dong, aku juga junior loh..." pekiknya semangat dan langsung merubah 'saya' menjadi 'aku' begitu tahu bahwa pemuda itu seumuran dengannya, "jadi, Muromachi-kun bisa membantuku kan? Aku ingin mengembalikan jaket ini--" 

"Tapi kau tidak ingat siapa nama pemilik jaket itu dan kau ke sini untuk meminta bantuanku menyiarkannya ke penjuru sekolah supaya pemilik jaket itu bisa datang ke sini dan bertemu denganmu, begitu?" 

Mari sempat terdiam mendengar junior Yamabuki itu menyahut cepat dan sesuai dengan yang ia harapkan, "Hai! bisa membantu kan?" 

Muromachi mengangguk sekilas dan mulai mengutak-atik apapun itu benda yang ada di depannya, "Kita coba saja," katanya. 

"Arigatou~~~" Mari kembali memekik dengan riang gembira, ia segera mendudukkan dirinya pada kursi yang tepat berada di depan Muromachi yang masih sibuk sendiri. 

"Ne, kau sering siaran di sini yah?" tanya sang gadis, ia menyangga dagunya dengan kedua tangan dan mata hitamnya masih terfokus ke tangan-tangan terampil milik Muromachi. 

"Tidak." 

"EEEEEEEEEEEHHH?? Tidak? Kenapa? Kau terlihat sangat menguasai alat-alat itu." 

"Aku dari klub tenis," jelas sang pemuda dengan singkat dan itu membuat Mari mengangkat alisnya heran. 

"Masa sih? kok tidak meyakinkan kalau kau bisa bermain tenis?" 

"Kau sadar tidak ucapanmu itu menohokku." 

"Eh, ahahaha, gomen...." 

Tanpa diduga, mereka cepat akrab yah? O____O 

******** 

*** 

********* 

"Konnichiwa, Minna-san... Siapapun yang mendengar berita ini,tolong beritahukan kepada siapapun yang merasa bahwa dirinya telah kehilangan sebuah jaket karena insiden tabrakan kemarin, dimohon untuk segera menuju ke ruang siaran, jaket anda saat ini ada di tangan orang coretanehcoret yang saat ini bersamaku. Tolong secepatnya ke sini atau anda akan melihatku gila setelah tugas siaranku selesai. arigatou. Muromacho Touji, kelas 2, menyiarkan langsung dari tempat kejadian perkara." 

"......." Mari hanya bisa sweatdrop level dewa di kursi tamu ruang siaran saat mendengar Muromachi selesai menyiarkan tentang dirinya. Terdengar aneh dan kalau orang yang mendengarnya kurang pintar pasti akan bingung, "Anoo--Muchi-kun, kenapa siaranmu aneh sekali?" tanyanya heran, ia tanpa sadar menggaruk rambut panjangnya. 

"Hei, sejak kapan namaku jadi Muchi hah?" junior Yamabuki langsung protes begitu ia mendengar namanya berubah jadi aneh begitu. Ia juga terlihat ngos-ngosan tak jelas. Ia baru beberapa menit bersama gadis bernama Mari ini tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dirinya hampir gila. 

Gadis ini dari tadi ngoceh tak jelas di depannya dan kebanyakan tidak penting. Seperti halnya saat ia menceritakan tentang dua sahabatnya yang Muromachi tahu salah satu dari mereka pernah mengalahkan salah satu senpai-nya, Sengoku. O.O 

"Hehehe, namamu terlalu panjang, Muchi 'kan lucu, hehehe." 

'Kami-sama, ini benar-benar menyebalkan, ini bahkan lebih menyebalkan daripada melihat Sengoku-san menggoda para gadis.' batin anggota reguler Yamabuki ini, akhirnya ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, "Sudahlah, aku pusing mendengar ucapanmu, kita tunggu saja, cepat atau lambat pemilik jaket itu pasti akan datang ke sini." 


********* 

*** 

********* 

BRAK!!!! 

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" 

Mari dan bahkan Muromachi serentak berteriak saat pintu ruang siaran tiba-tiba dibuka dengan sangat kencang sehingga menimbulkan suara yang membuat dua junior ini kaget luar biasa. Mereka menutup kepala dengan tangan masing-masing dan menunduk takut. 

"MARI!" 

"MUROMACHI-KUN!

"SEDANG APA KAU DI SINI!" 

"APA MAKSUD SIARANMU, ANAK MUDA!!" 

"JAKETKUUUUUU!" 

Teriakan demi teriakan memenuhi ruang siaran yang awalnya sunyi, tentu saja hal ini membuat Mari dan Muromachi heran. 

Ruang siaran yang tadinya hanya berisi dua orang itu mendadak penuh sesak oleh manusia. Ada yang mengenakan seragam Seigaku (ah, kalau itu sudah jelas kedua sahabatnya) ada yang mengenakan jersey Yamabuki, bahkan Mari juga melihat ada satu sosok guru di antara mereka. 

Ada apa ini? 

Mari perlahan berdiri dari kursinya dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi, "Doushite minna?" 

"BAKA! KAU MEMBUAT KAMI KHAWATIR!" 

Bentakan super itupun membuat Mari bungkam, huhu, mereka tetap saja membentaknya, "Gomennasai," ucap Mari seraya membungkuk singkat. 

"Muromachi-kun, siaranmu barusan membuat kepala sekolah tersedak sushi!

"Eh, hountou? Maa, summimasen, sensei," respon Muromachi datar. 

"Jaketku, jaketkuuuuu." 

Ini kenapa rusuh begini? 

********* 

*** 

********* 

"Summimasen," Mari dan kedua sahabatnya membungkuk sopan kepada salah satu sensei yang tadi memarahi Muromachi tentang siaran itu, apa katanya tadi, kepala sekolah mereka tersedak sushi. Pppfftt-- 

"Daijobu, ahahaha, kamu jujur sekali mau mengembalikan barang yang bukan milikmu yah, bagus, bagus..." pria paruh baya itu menepuk pundak Mari penuh bangga dan hanya dibalas cengiran kaku sang gadis. 

"Maaf sudah membuat sekolah ini kacau sejenak," kata Mari, ia memundurkan langkahnya guna menghindari tepukan sang sensei karena lama-lama tepukan itu sakit juga. 

"Sudah biasa kok, sekolah ini kacau setiap harinya,"celetuk Muromachi yang langsung mendapat tatapan diam-kau-anak-muda-kau-masih-harus-bertanggung-jawab-atas-siaran-tadi dari sensei

"Ahahahaha," Mari tertawa garing mendengar celetukan teman barunya itu, kali ini ia menuju ke satu sosok yang dari tadi ia cari-cari--Higashikata Masami--akhirnya ia ingat nama pemuda itu, "Anoo, Higashikata-san, summimasen sudah membawa jaketmu seenaknya." 

"Tidak apa-apa, arigatou juga sudah mengantarkannya." 

"Hai,... kalau begitu kami permisi..." ketiganya kembali membungkuk sopan dan mulai meninggalkan sekolah yang sempat mereka kacaukan itu. Tapi baru beberapa langkah, Mari kembali berbalik, ia melambaikan tangan kanannya dan berteriak kencang, "Muchi-kun, arigatou na... katakan pada Akutsu-san juga, arigatou~" 

"Hai, hai, pergi sana," jawab Muromachi, ia tersenyum menatap kepergian gadis yang tadi sempat bersamanya itu, gadis itu lucu tapi sedikit aneh dan sangat berisik... tapi Muromachi merasa kalau bersamanya itu menyenangkan.

********* 

*** 

********* 

"Muchi? namanya Muchi? nama yang aneh," gumam Momoshiro saat ketiganya berjalan pulang dari Yamabuki chuu. Ia sepertinya pernah melihat orang tadi, tapi di mana yah? Benarkah namanya Muchi? 

"Namanya Muromachi Touji, tapi terlalu ribet, ya sudah kuputuskan memanggilnya Muchi, lucu kan?" 

"........" Kaidou dan Momoshiro terbengong mendengar alasan sahabat mereka memanggil pemuda itu seperti--itu. Serius, lama kelamaan, sifat Mari yang hobi memberikan panggilan aneh kepada orang-orang di sekitarnya itu makin parah. 

Seperti halnya saat ia memanggil Tezuka-buchou 'Alien' dan membuat kapten berkaca mata itu memberikan hukuman lari keliling lapangan 50 kali dan tentu saja Kaidou dan Momoshiro yang menggantikannya. 

Yang mencari masalah siapa dan yang mendapat hukuman siapa? 

"Sudahlah, tidak penting, oh iya, kalian lapar? aku lapar nih, kita makan yuk?" tawar Momoshiro, ia memegangi perutnya yang sepertinya benar-benar minta di isi. Pasti ia kelaparan karena teriak-teriak mencari Mari. 

"Maaaauuu... Momo-chii yang traktir kan? asik.. Kaoru-chan mau makan apa?" Mari menjawab semangat, ia menarik lengan sahabat dari kecilnya itu untuk berjalan lebih cepat. Meninggalkan Momo yang masih terbengong. 

"Ramen," ucap Kaidou pelan. Ia hanya menurut saja ditarik-tarik oleh Mari. 

"Ramen... boleh... ayoo.. Momo-chiii~" kok sepertinya malah gadis ini yang semangat sekali. 

"HEEEEEEEIII... KENAPA AKU YANG MENTRAKTIR KALIAN, HA?" Momoshiro berteriak tak terima, ia berlari menyusul dua temannya yang berada beberapa meter di depannya. 

Mari dan Kaidou menoleh bersamaan lalu menyeringai, "Sudah jelas 'kan, karena kau yang mengajak kami." 

"....LINTAH DARAT! DAN MAMUSHI, KENAPA KAU JUGA IKUT-IKUTAN DIA!!" 

"Fshuuu." 

"KALIAN MEMANG MENYEBALKAN... TAHU BEGINI AKU TIDAK AKAN MENGAJAK KALIAN!" 

The End 

HIAAAAAAAAAAAAAAAAA.... AKU TAHU CERITANYA GAK JELAS, SUMMIMASEEENNNN *makan coklat* #woi 

Sebenarnya ini sudah pernah kutulis di fb sih... tapi aku edit lagi dikit, ahahahaha... dan seperti biasa, gak afdol kalau gak ditulis di sini :D 

Sudah yah, gak mau ngomong panjang lebar.. oh iya... sebenarnya aku dibuatin fanart unyu loh sama temenku, namanya Kaori-chan... itu fanart tentang Mari, Kaoru-chan dan Momo-chii.. 

Pas itu aku nanya, boleh gak, gambar ini aku jadiin ava di akunku? Dia bilang boleh, gambar ini punyamu kok, dan aku jelas seneng banget dong >/////< 

Tapi pas kucoba, ternyata gak bisa jadi ava :v karena gambarnya terlalu gede orz :'( 

Ya sudah... akhirnya aku upload di sini saja yaaahhh.... ini diaaa.... 
Mari and The Rival Pair
Duh... wkwkwkwkwk... Kaori-chan bilang gambarnya agak gagal sih, tapi apapunlah, gambar kaya gitu dibilang gagal T_____T itu keren :'') Mari-nya keliatan kecil banget... tapi emang kenyataannya aku kecil sih yah, wkwkwkwk.... 

Ngomong soal Kaori-chan.. kalau mau kenalan sama dia, bisa loh temui dia di  Facebook  HOKEEEHHH.... 

Sudah yah, saya capek T____T jaaaaaaaaaaaa..... *winks* 

Thursday, 19 March 2015

Eien No Rival

"EEEEEEEEEEEEEHHHHH??? KAORU-CHAN DAN MOMO-CHII?"

"Iya, Mari... mereka ada di atap sekolah, sepertinya pertengkaran mereka kali ini cukup serius, kau harus menghentikannya sebelum semuanya terlambat."

Tanpa mengatakan apapun lagi, gadis yang dipanggil Mari itu langsung meninggalkan kelas 2-8 dan bergegas menuju atap sekolah di mana dua sahabatnya—yang kata teman sekelasnya—tengah berkelahi di sana.

"Dasar mereka berdua memang bodoh... kenapa kalian selalu bertengkar sih, seperti anak kecil saja," Mari mengomel tak jelas dengan masih memacu langkah semakin cepat. Ia jelas kesal kepada dua pemuda itu, kenapa seolah-olah hari mereka itu tak lengkap tanpa berantem. benar-benar kekanak-kanakan.

Bisa tidak sih mereka berdua akur sebentar saja, seperti halnya saat keduanya bertanding melawan Rikkaidai itu. Eh, tapi mereka juga sempat berkelahi yah pas pertandingan itu.

Gadis bertubuh kecil ini terlihat ngos-ngosan saat dirinya sampai di depan pintu yang menghubungkannya dengan atap sekolah, ia menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangan yang ia letakkan di kedua lutut. Nafasnya tidak teratur. Rambut hitamnya juga sedikit berantakan karena berlari dengan kencang tadi.

Kalau dipikir lagi, ia sering sekali mengalami hal ini hanya gara-gara dua orang yang menjabat sebagai sahabatnya itu. Ah, sudahlah, tidak penting. Dengan sekali dorong, Mari pun mulai memasuki atap sekolahnya.

"Kaoru-chan, Momo, yamete—eh???"

Powered By Blogger

Translate

Awesome Inc. theme. Powered by Blogger.