(~●ω●)~ ~(●ω●)~ ~(●ω●~) Hello, Mari-chan is here ★★★ A cheerful, sweet, innocent and light idiot girl who loves Trafalgar Law more than anyone ♡♡♡ Trafalgar Law's Wife ♡ Fushichou Marco's Niece ★★ Sabo & Echizen Ryoga's Sister★ ★ Whitebeard Pirates & Heart Pirates ★★ Kaidou Kaoru and Momoshiro Takeshi's Bestfriend ★★ One Piece ── One Piece Live Attraction ★ Prince of Tennis ★ Hunter X Hunter ★ Death Note ★ MarcoAce is Life. MarcoAce is Love ♥ Sweet Combi ♥ Rival Pair ♥ Seigaku ★ Extremely biased towards Ishiwatari Mashu and Kimura Tatsunari ♥ Yoroshiku ♥ and welcome to my (weird) blog (ノ゚▽゚)ノ
Showing posts with label Momoshiro Takeshi. Show all posts
Showing posts with label Momoshiro Takeshi. Show all posts

Sunday, 27 February 2022

Mari's Valentine

"Mau cokelat?" 

 Mari yang tengah membaca buku dengan tenang di kursi belajarnya menoleh singkat, memperhatikan kakaknya yang tersenyum menyebalkan di sampingnya. Tangan kirinya masih membawa raket yang dia sandarkan di pundak sedangkan tangan kanannya membawa sebuah jeruk. 

 "Abang lain kali kalau masuk kamarku ketuk pintu dulu!" bentaknya pada Ryoga yang selalu seenaknya masuk kamar tanpa mengetuk pintu.

 'Krauk

Tanpa sedikitpun peduli akan protes yang dikeluarkan sang adik, Ryoga hanya mengangkat bahu dan menggigit jeruk kesukaannya. 

Mari meringis mendengar suara gigitan jeruk kakaknya, sejak kecil ia melihat Ryoga makan jeruk tapi tetap saja dirinya tidak terbiasa. Bagaimana bisa makan jeruk seperti makan apel? Apa kulitnya tidak pahit? 

Mari menghembuskan napas karena merasa protesnya hanya akan menjadi sia-sia belaka jika sudah berurusan dengan Echizen Ryoga, "Memangnya Abang punya cokelat?" dengan malas ia akhirnya bertanya. 

Ryoga menggeleng, "Kita beli dong," jawabnya pede. 

Mari ingin sekali melempar kakaknya ke rumah Ryoma, "Yeeee Mari kira Abang mau memberi Mari cokelat karena sebentar lagi valentine. Hih dasar pelit!" gadis berhelai hitam panjang ini menjulurkan lidah ke arah sang kakak, "Keluar dari kamarkuuuuuu!" Mari berdiri dari kursi dan mendorong tubuh kakaknya untuk keluar dari kamarnya.

"Ei, Mari. Tunggu-" 

Brak! 

Wednesday, 29 July 2020

Shocking! Second Brother Appears

"Echizen Ryoga?"

Mari yang tengah asyik menikmati makan siang bersama dua sahabatnya sejenak menoleh, menatap beberapa gadis yang berkerumun di sudut kantin dengan menyelidik. Jika telinganya tidak salah, ia benar-benar mendengar nama Echizen Ryoga tadi.

Tapi, apa benar yang mereka bicarakan itu Echizen Ryoga? Sebelah alisnya terangkat. Heran.

Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin! Dari mana mereka mendengar nama itu? Ah pasti Mari salah dengar. Atau mereka salah bicara?

Lagipula, nama Echizen bukan nama yang bisa ditemukan dengan mudah di zaman sekarang. Dan sejauh yang ia tahu, hanya ada satu keluarga pemilik nama itu, yaitu keluarga Ryoma-kun. Dan juga—

"Ada apa?"

Mari terkesiap, pandangannya teralih dari sekumpulan gadis di pojokan dan kini tertuju ke mata hitam sang sahabat. Kaidou Kaoru. Pemuda yang sejak kecil sudah bersamanya, "Kaoru-chan?" gumamnya mendapati Kaidou memberikan tatapan khawatir.

"Kau dari tadi memperhatikan mereka, kenal?" tanya pemuda itu lagi, yang disambut gelengan kepala Mari. Jadi ia memperhatikan mereka toh? Padahal tak ada maksud seperti itu.

"Ne, Mari," suara pemuda lain—Momoshiro Takeshi—memanggil, memaksa Mari beralih menatapnya, pemuda enam belas tahun balas menatap sembari mengunyah makanannya, "Kau tidak suka makananmu kah? Dari tadi tidak dimakan, Sini biar aku saja yang memakan—"

Belum sempat Momo menyelesaikan ucapan, sebuah garpu sukses menancap di sela-sela jarinya, membuat sang pemuda berambut landak berjengit dan menarik tangannya, "Mari-chan kowaaaaaiii."

Mari tak peduli, ia menusuk sosis dan memakannya dengan lahap. Sepenuhnya mengabaikan cibiran Momoshiro. Dan mengabaikan gadis gadis dari kelas dua itu.

Ia pasti salah dengar.

One Piece © Eiichirou Oda

The Prince of Tennis © Konomi Takeshi

Shocking! Second Brother Appears © Mari-chan

Wednesday, 2 September 2015

Meet My Personal Doctor

"Apa!"

Cengiran nampak menghiasi wajah Mari saat ia melihat sosok tetangganya yang juga menjabat sebagai sahabatnya, Kaidou Kaoru, yang baru saja keluar dari rumahnya. Mari yang memang sudah stand by di depan rumah sang sahabat jelas langsung berhadapan dengannya. Dan tak lupa Mari juga langsung mendapat bentakan super darinya. Ugh. 

"Ne, Kaoru-chan tidak sibuk 'kan? Hehehe," Mari bertanya dengan pelan dan mulai mendekati sang pemuda berbandana yang masih berdiri di depan pintu.

"Fshuuuu, memangnya kenapa?" Kaidou balik bertanya, ia menatap bosan sang gadis yang kali ini sudah berdiri tepat di sampingnya dengan masih nyengir tak jelas.

"Hari ini jadwalku check up, dan tidak ada yang menemaniku... Marco-jichan masih di kantor dan Sabo-nii ada acara dengan teman-temannya... Kaoru-chan kan tidak sibuk, temani aku yah, hehe."

Hening beberapa saat sebelum desisan dari Kaidou kembali terdengar, kali ini ia juga menggaruk kepalanya, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, "Aku sibuk, Mari," jawabnya.

Bola mata hitam milik Mari memicing mendengar jawaban sang sahabat dan lagi jika dilihat dari gelagatnya sih, sahabatnya itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu.

"Hmmmm," Mari menatap sahabatnya dengan tatapan penuh kecurigaan.

"Jangan tatap aku seperti itu!" Bentak Kaidou. Bola mata gelapnya bergulir ke kanan dan kiri, enggan bertemu dengan bola mata hitam milik Mari.

"Sebentar... Kaoru-chan mau pergi yah? Eh? Ada janji dengan Momo-chii kah?" Tebak Mari sambil tersenyum jahil dan ia semakin menguarkan seringainya saat melihat Kaidou gelagapan di depannya.

"A-apa! Tidak kok! Aku hanya ingin jalan-jalan saja," elak Kaidou dengan cepat, ia menggelengkan kepalanya dan beralih menatap halaman rumahnya yang luas.

"Hoooo," gumam sang gadis, ia mengusap dagunya dan kembali menyeringai "jadi tidak ada janji dengan Momo yah? Hmmmm... ya sudah, pasti Momo tidak ada kerjaan, kalau begitu aku ajak Momo-chii saja deh," putusnya seenak jidat dan mulai berlari meninggalkan halaman rumah keluarga Kaidou.

"Heh, iya iya, aku temani!"

Smirk! 

Dalam hati Mari tertawa setan. Sahabatnya ini ternyata gampang sekali ditipu. Hahahahaha


Meet my personal doctor © Mari-chan  

Disclaimer 

Tenipuri © Konomi Takeshi 

One Piece © Eiichirou Oda 



"Kaoru-chan pernah bertemu dengan dokterku tidak?"

Gelengan kepala menjadi jawaban dari Kaidou atas pertanyaan dari Mari barusan dan itu menjadi alarm bagi Mari untuk melebarkan kedua matanya "HAH! BELUM PERNAH! MASA SIH????" Teriaknya heboh.

Kaidou mendesis dan mengabaikan protes dari Mari yang hampir membuat semua mata tertuju pada mereka, "Memangnya kenapa kalau aku belum pernah bertemu dengannya, hah?"

"Aneh."

Empat sudut berbentuk siku langsung nempel di jidat sebelah kiri dari Kaidou begitu mendengar satu kata itu, "Heh! Memangnya kau pernah mengenalkan dia padaku atau bagaimana, hah? Tidak kan? Sudah diam atau akan kutinggalkan kau sendiri!" Ancamnya dan mulai berjalan sedikit lebih cepat dari Mari.

"Mou, galaknyaaaa...." Mari mencibir, "Tapi... selama ini perasaan, aku sering bercerita padamu tentang dokterku, bahkan kau pernah bertemu dengannya kan saat ke rumahku?" ia lanjut ngoceh.

"Itu hanya perasaanmu, aku tidak tahu siapa doktermu, sudah diam!"

Kedua murid Seishun Gakuen ini akhirnya berjalan dalam diam menuju halte bus. Rumah sakit tempat Mari check up tidak begitu jauh tapi tetap saja mereka tidak mungkin ke sana dengan jalan kaki. Memangnya Kaidou mau mengambil resiko Mari pingsan di tengah jalan. Geh? Padahal dia mau menemui dokternya.

Bisa-bisa Kaidou kena sembur dokter pribadi Mari.


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


Tak sampai sepuluh menit akhirnya Mari dan Kaidou sampai di rumah sakit kota Seishun, Mari segera menuju ke tempat informasi dan menyeret tangan Kaidou untuk mengikutinya.

"Mari-chan? Tunggu sekitar lima belas menit lagi yah, Sensei sedang ada pasien," Yumiko dengan senyuman ramah memberi tahu Mari tentang jadwalnya check up. 

"Arigatou, Yumiko-nee," Mari membungkuk hormat ke arah petugas rumah sakit berwajah cantik itu dan kembali menyeret Kaidou untuk duduk di ruang tunggu.

"Hei, hei, kau dari tadi menyeretku ke sana dan sini, aku bisa jalan sendiri!"

"Aku takut Kaoru-chan tersesat!"

"Memangnya aku ini kau?"

"Apa katamu?"

"Fshuuuuu."


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


Kriiiiinnggg... 

Mari yang tengah duduk santai di ruang tunggu rumah sakit sedikit terperanjat saat ia mendengar suara ponsel dari seseorang berdering. Iapun menolehkan kepalanya dan memperhatikan Kaidou yang tengah menatap ponselnya dengan wajah aneh, "Dari siapa?" tanyanya.

Suara dari Mari sepertinya sukses menyentakkan Kaidou yang masih diam memperhatikan ponselnya. Buru-buru ia memasukkan kembali ponselnya itu ke saku celana dan beralih menatap Mari sembari menggelengkan kepalanya sok polos, "Bukan siapa-siapa," jawab Kaidou dan diakhiri desisannya.

Tapi Mari bukanlah sosok yang mudah dibohongi, apalagi dibohongi oleh seorang Kaidou Kaoru. Itu tidak pernah ada dalam kamusnya. Mari tahu benar sifat Kaidou, Kaidou itu tidak pandai berbohong! Jadi ia juga tahu kalau sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu.

Mari melirik jam di pergelangan tangannya, masih ada waktu sebelum ia menemui sang sensei, ia harus tahu apa yang disembunyikan oleh Kaidou. HARUS! 

Mari bertekad dalam hati.

Tak sampai dua menit, ponsel milik Kaidou kembali berdering dan lagi-lagi Kaidou tidak menjawab panggilan itu dan berniat kembali memasukkannya ke saku.

"Wah, telepon dari Momo-chii kah?" celetuk Mari dengan suara agak keras dan itu lagi-lagi membuat Kaidou terdiam. Wajah sang pemuda yang tadinya dipenuhi kegelisahan kini terlihat semakin mengkhawatirkan.

"A-apa! Bukan!" elak Kaidou, dan Mari berani bersumpah demi dokternya yang keren itu, Ia benar-benar melihat wajah Kaidou memerah. Serius???

"Coba sini hapemu!" pinta Mari, ia mati-matian menahan tawanya saat melihat ekspresi sang sahabat yang sangat jarang ia lihat itu. Tangan kecilnya terulur ke arah Kaidou, mengisyaratkan sang pemuda untuk memberikan apa yang ia minta.

"Hah? Sudah kubilang bukan si Idiot itu yang menelepon!" dan Kaidou pun masih mencoba mempertahankan ponselnya.

"Aku akan minta maaf pada siapapun yang meneleponmu karena kau membatalkan janji dengannya karena menemaniku, apa itu salah? Sudah berikan!" gadis tiga belas tahun ini semakin memaksa dan memberikan tatapan maut ke arah Kaidou. Tumben ia bisa seperti ini?

"Ti--"

Kriiiiinnngg! 

Dan ucapan Kaidou terhenti saat sang ponsel kembali berdering untuk ke tiga kalinya. Seringai Mari semakin mengembang saat Kaidou mengambil ponselnya dari saku dan tanpa basi-basi, Mari pun menyambar ponsel berwarna hitam milik Kaidou.

"Hei--"

"Sssssst, ini rumah sakit, dilarang berteriak, Kaoru-chan... jadi kau diam saja! Oke?"

"......."


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 



Mari cengengesan tak jelas melihat nama yang tertera pada layar hape milik Kaidou, di situ tertulis jelas siapa yang menelepon pemuda berbandana ini, meskipun nama yang terpasang di situ adalah "Idiot" tapi Mari paham seribu persen siapa yang dimaksud Idiot oleh Kaidou itu. HAHAHAHA

Piip! 

Pelan-pelan Mari menempelkan ponsel Kaidou ke telinganya, "Moshi-mo--" 

"MAMUSHI NO BAKA! KAU KE MANA SAJA HAH! BUKANKAH KITA ADA LATIHAN DOUBLES MELAWAN KAMIO DAN IBU, KENAPA KAU KABUR, SIAL!!!!!" 

Mari langsung menjauhkan sang ponsel dari telinganya saat suara seseorang dari seberang sana terdengar luar biasa marahnya. Aduh! Sekarang ia paham betul kenapa sahabatnya enggan mengangkat telepon dari makhlu bodoh itu. Ia berharap telinganya masih normal sejak ia mendengar teman sekelasnya itu berteriak tepat di telinga kanannya barusan.

Kaidou yang duduk di sampingnya mendesis pelan.

Setelah mengumpulkan kesadaran akibat serangan maut suara milik Momoshiro, akhirnya Mari kembali nenempelkan ponselnya ke telinga dan ia mendengar suara di seberang tengah ngos-ngosan. Oh, sepertinya dia marah sekali.

Eh? Sebentar, bukankah itu berarti, Kaoru-chan ada janji dengan Momo? Ooooohhh... Mari mengangguk-angguk tak jelas dan tersenyum sumringah, yah, padahal tadi dia sempat berniat menggampar Momo sih karena membuat telinganya hampir budek mendadak.

"Momo-chii, kah?" ucap Mari dengan pelan.

"....." suara di seberang telepon mendadak lenyap.

"Are? Momo-chii... halooooo..." panggil Mari lagi, kali ini dengan suara yang lebih nyaring.

"Ma-mari? Hah? Mari? Ini hape Kaidou kan? Kenapa ada padamu!" cengiran menghiasi wajah sang gadis saat mendengar suara Momo yang juga gelagapan, "hahaha, Kaoru-chan ada di rumah sakit bersamaku," jawabnya.

"Rumah sakit? Hah? Mamushi sakit? Jangan bercanda! Mana mungkin ular jejadian itu sakit, hahaha!" 

Mari mendelik mendengar kalimat super enteng dari Momo tapi mendengar itu juga, Mari jadi punya ide yang cukup bagus untuk mengerjai makhluk jabrik itu. HAHAHAHAHA

"Ne, Ahou! Kaoru-chan juga manusia! Semua manusia bisa sakit, kau tahu, tadi dia mengalami musibah saat akan pergi entah ke mana--" Mari menoleh ke arah Kaidou yang sudah mendelik tak karuan di sampingnya, mungkin Kaidou mencoba protes akan kebohongan dari Mari. Tapi Mari juga memberi kode untuk sahabatnya itu agar diam saja dan duduk manis di sampingnya.

"...." 

Setelah sibuk menenangkan sahabat ularnya, Mari kembali fokus ke Momo dan ia sedikit terhenyak saat suara di seberang telepon tidak terdengar lagi, "Momo-chii, kau masih di sana?" Tanyanya penasaran.

"....... A-aah." 

Smirk! 

Mendengar suara Momo yang seperti itu membuat Mari menyeringai. Entah berapa kali Mari menyeringai hari ini, ia benar-benar tidak menyangka akan semenyenangkan ini mengerjai Momoshiro, "Ne, jadi Kaoru-chan mau pergi menemuimu yah, uh... kasihan Kaoru-chan-ku yang malang, sensei belum keluar dari ruangannya, apa kau tidak khawatir padanya, Momo-chii?" 

"...." 

"Sensei mungkin akan menemuiku 10 menit lagi--"

Tuuuuut! 

"Are? Putus," guman Mari sok cuek, ia meringis dan mengembalikan ponsel Kaidou yang sudah berwajah merah padam di sampingnya.

"Kau!" Kaidou mendesis menahan marah--atau malu--entahlah, ia tidak paham. Yang jelas raut wajah Kaidou saat ini terlihat mengerikan. Ugh, gawat, aku bermain-main dengan ular berbisa! Matilah aku! 


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Ja-jangan marah dong, Kaoru-chan, HEHEHE," Mari perlahan mundur dari duduknya saat Kaidou mulai melemaskan jari-jarinya dan mendekatinya. SIAL APAKAH DIA AKAN MENJITAKKU? ATAU MENJEWERKU? AAAA MARCO-JICHAAAAAN! 

"Kau ini--"

"Ne, ne, memangnya kau tidak penasaran yah, Momo-chii beneran datang ke sini apa tidak? Kalau Momo-chii benar-benar menganggapmu sebagai seseorang yang penting, dia pasti akan sampai di sini kurang dari--" Mari melirik jam tangan birunya dan mengguman pelan "7 menit," lanjutnya, ia masih mencoba mengulur waktu sebelum sahabatnya itu membunuhnya.

"Memangnya aku peduli, hah?" Kaidou seakan tak termakan rayuan dari Mari dan ia terlihat semakin marah. GAWAT! 

"Ne ne ne, mau taruhan tidak, kalau Momo-chii datang ke sini kurang dari tujuh menit, Kaoru-chan harus memaafkanku, HEHEHEHE," dan ucapan Mari semakin ngaco saja.

"SIAPA PEDULI PADA SI IDIOT ITU, HAH!" Kaidou mulai mengarahkan tangannya untuk menjitak kepala Mari atau apapun itu, Mari benar-benar tidak siap menerimanya, ia menutup kedua matanya dan berteriak takut.

"AAAAAAA ADA MONSTER--"

"Mari--"

"MARI!"

Dua panggilan dari dua suara tapi memanggil satu nama itu sukses menghentikan aksi Kaidou Kaoru yang berniat melakukan apapunlah itu kepada Mari. Dalam hati Mari bersyukur dirinya masih selamat.

Lha suara tadi? 

Gadis ini perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling, senyumnya mengembang begitu melihat dua sosok yang sangat ia kenali, "Traffy!" Ia berseru saat melihat dokter pribadinya yang sudah berdiri santai di depan ruangannya.

Dan setelah itu, Mari menolehkan kepala ke sisi lain dari tempatnya duduk dan ia tersenyum lebar menatap sosok yang baru saja sampai di rumah sakit dengan ngos-ngosan, "Momo-chii!" pekiknya semangat dan ia menjulurkan lidahnya ke arah Kaidou yang hanya bisa mematung di tempat duduknya.

"He? Mamushi?" Mari mendengar dengan jelas gumaman dari Momoshiro saat melihat Kaidou yang dalam keadaan baik-baik saja, "Mari, kau mengerjaiku!" katanya geram.

"Ahahahaha... sudahlah, Momo-chii," siswi Seishun Gakuen berjalan dengan langkah super ringan ke arah Momo dan menarik lengannya guna mengajak sang pemuda ikut bergabung dengannya dan Kaidou. INI AKAN MENYENANGKAN! HAHAHAHA 

"Nani!" 

"Traffy! Bolehkah mereka ikut masuk?"


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Bagus, semuanya bagus, Mari tidak bandel, dosis obatnya akan aku kurangi."

Mari meringis mendengar ucapan dokternya setelah selesai memeriksa dirinya. Akhir-akhir ini ia memang tidak bandel sih, ia selalu menurut kata Ojisan-nya, makanya hasil pemeriksaan kali ini memuaskan dan yang lebih menyenangkan, dosis obatnya akan dikurangi. Bagus! 

Tuk! Tuk! 

"Hn?" Tarikan pelan pada lengan bajunya membuat Mari menoleh dan ia melihat salah satu sahabatnya tengah menatap dokternya tanpa berkedip, "...ada apa, Momo?" Tanyanya.

"Ne, Mari, itu doktermu? Yang benar saja?" Bisik Momo sangat pelan, ia mencoba sepelan mungkin agar manusia yang tengah mencoret-coret resep obat dari Mari itu tak mendengarnya.

"He? Iya, dia dokterku, memangnya kenapa?" Dengan polosnya Mari kembali bertanya.

"Kau gila ya, jadi selama ini dia yang merawatmu kalau sakit? Dia? Kau ini... lihat saja penampilannya, siapa yang percaya kalau dia dokter? Penampilannya mengerikan!" Ujar Momoshiro. Agak tidak sopan memang.

"Hmmm, Law-sensei tidak mengerikan kok," gumam Mari agak sedikit keras dan itu membuat sang dokter beralih menatap murid Seigaku itu.

"Baka! Dia dengar!" Pekik Momo, ia menjitak pelan kepala Mari.

"ITTAI!" dan sudah jelas Mari balas menjitak kepala Momo.

"Hentikan, baka!" Bentak Kaidou yang sedari tadi diam di tempat duduknya, ia jengkel juga ternyata karena dua makhluk di sampingnya itu tidak bisa diam barang sedetik. Dan ia juga kesal ternyata dokter yang dimaksud Mari adalah Trafalgar Law.

Kalau Law sih Kaidou sering bertemu dengannya. Ternyata Law itu dokter? Dia dokter? Tapi penampilannya tidak meyakinkan sebagai seorang dokter.

"Hmmmm, jadi, siapa yang mengerikan, hmm??" Dokter bernama lengkap Trafalgar Law itu bertanya seraya menyeringai menatap Mari dan kedua sahabatnya.

Aku merasakan perasaan aneh.


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Namaku adalah Trafalgar Law, dan iya aku seorang dokter, dokter ahli penyakit dalam dan dokter bedah," jelas Law masih dengan seringainya, "lalu, kalian berdua?" ia melirik teman-teman Mari dan alisnya terangkat saat mata gelapnya melihat sosok Kaidou, "....Kaidou Kaoru?" gumamnya.

Kaidou hanya mendesis dan membuang muka.

"..." Momoshiro masih mematung di depan meja dokter yang barusan memperkenalkan diri itu.

'Orang bodoh mana yang akan percaya kalau manusia penuh tato dan pakai tindik di telinga itu adalah dokter.' teriaknya dalam hati, dan ia lebih heran lagi menyadari bahwa dokter itu mengenal Mamushi.

Dan.... Itu juga yang Mari tebak dari ekspresi Momo saat ia memperhatikannya. Iya juga sih, kalau dipikir, dokternya memang nyentrik, ia punya tindik di telinganya, dan tangannya juga penuh tato? O.O

Sudah begitu, tato di tangannya juga seram, D.E.A.T.H. Eeerrr--agak membuat merinding juga ternyata dokternya ini.

"Se-seigaku ninen, Mo-momoshiro Takeshi desu."

"Seigaku ninen, Kaidou Kaoru, tapi sepertinya kau sudah mengenalku, Law-san."

Law menyeringai, "Kau teman sekelas Mari?"

"Traffy sudah mengenal Kaoru-chan, kan... dan Momo-chii ini juga sahabatku..." potong Mari. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Oh, itu?"

Mendengar gumaman dokter seram itu yang seolah mengerti sekali tentang cerita mereka berdua, Momoshiro dan Kaidou pun menghujani Mari dengan tatapan 'apa maksudnya itu, heh!' Tapi Mari seolah cuek dan malah kembali fokus ke sang dokter.

"Anoo, sebenarnya yah, Traffy, mereka ini penasaran," ucap Mari sambil menunjuk ke dua sahabatnya yang hanya bisa mendelik galak ke arahnya, "kenapa Traffy punya tato? Bukankah dokter itu pekerjaan yang sangat baik, tapi tato itu membuatmu terlihat seperti yakuza, ya kan, minna?" lanjutnya terlalu jujur, Ia tersenyum sok manis ke arah dua sahabatnya dan juga dokternya.

"Apa maksud kalimatmu itu, baka!" Kaidou dan Momoshiro memprotes bersamaan dan itu membuat Mari tertawa dan bertepuk tangan.

"Sasuga Rival Pair, kalian memang kompak! Hahahaha," gadis ini berteriak dengan penuh semangat. Serius minta digampar ya dia?

"Mari!!!"

"Oh, tato ini?"

Niat Kaidou dan Momoshiro untuk menjitak kepala Mari kembali terhenti saat mendengar gumaman seseorang dan itu adalah gumaman dari dokter Mari.

Sekarang Kaidou paham kenapa Mari sangat menyukai dokternya, dokter menyeramkan ini sering sekali menyelamatkan Mari dari penganiayaan yang akan dilakukan oleh orang-orang di sekelilingnya.

Oke, terlalu berlebihan memang.


(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Aku membuat tato di tanganku sejak masuk fakultas kedokteran, mereka sempat menolakku tapi melihat prestasiku yang jauh di atas mahasiswa lain, mereka akhirnya mengalah, aku ini jenius," ujar Law-sensei dengan nada serius dan sedikit narsis.

"Jenius? Kenapa meragukan sih?" Mari menggumam dan sebuah kaki sukses menginjak kaki kecilnya "Hoi! Sakit!" Ia menggeram menatap Momoshiro yang barusan menginjaknya.

"Ahou! Diam deh!"

Mari menggembungkan pipinya kesal dan kembali menatap sang sensei, "Benarkah Traffy jenius? Palingan kalah sama Marco-jichan?" Celetuknya.

"Kalau aku tidak pintar, bagaimana bisa aku jadi dokter, hah! Lagipula kalau soal matematika, aku ratusan kali lebih pintar daripada Mari. Dan jangan samakan aku dengan Marco-ya, dasar bodoh."

JLEB!

Mari manyun seketika mendengar ucapan sang sensei. 

"Ppppfffftt," sementara Kaidou langsung menutup mulutnya dengan tangan saat mendengar celetukan dokter dari Mari itu, sedangkan satu orang lagi--

"HAHAHAHAHA, SENSEI, KAU BENAR SEKALI! Mari itu bodoh sekali dalam hal matematika, hahahaha--ittai!" Momoshiro langsung berhenti tertawa saat Mari mencubit pipinya dengan sangat keras, air mata juga mengalir dari matanya, "Mari, kau jahat sekali."

"Menyebalkan! Aku tidak bodoh tahu! Aku hanya kurang pintar dalam hal menghitung, caramu tertawa itu menyebalkan, Baka!" Dengus Mari, ia melipat tangannya di depan dada dengan bibir yang masih manyun.

"Kaoru-chan juga mau tertawa kan, padahal kau juga sama bodohnya dalam hal matematika!"

"Nani! Aku tidak bodoh!"

"Inui-senpai mengatakan nilai ulanganmu kemarin 4,1!"

"Lebih baik daripada nilaimu yang 3,2! Sabo-san menceritakannya padaku kemarin!"

"Nani!" 

"Kalian berdua itu sama-sama bodoh!"

"DIAM KAU! KAU YANG PALING BODOH DI ANTARA KAMI!"

Law hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan pasien kesayangannya dan teman-temannya. Ia sering melihat Mari berdebat dengan Kaidou, tapi ia tidak menyangka dengan bertambahnya Momoshiro, trio ini menjadi trio yang sangat berisik.

Tapi kemudian, dokter tampan ini teringat teman-temannya dulu, Luffy dan lainnya yang tak kalah hebohnya dari tiga orang ini, ternyata di mana-mana yang namanya makhluk berisik itu ada. Law membatin pasrah.

"Sudah sore, kalian tidak pulang?" Ucap Law, sebenarnya dia berniat mengantar Mari pulang, tapi Mari sedang bersama dua sahabatnya, pasti akan terlihat aneh jika Law hanya mengajak Mari.

Dan lagi, bisa-bisa dua sahabatnya itu mengatakan hal-hal lain kepada Marco-ya, ia bisa berada dalam masalah.

"EH? EEEEEHHHHH???"

BAKA! 

(~●ω●)~  ~(●ω●)~  ~(●ω●~) 


"Aku heran kenapa Law-sensei bisa jadi dokter dan jadi dokter kesayanganmu pula!" Momoshiro bertanya kepada Mari dengan nada heran setelah mereka bertiga keluar dari rumah sakit dan kali ini tengah berjalan menuju rumah Mari. Iya, sudah pasti dia sedang mengantar Mari pulang.

"Soalnya dia keren! Agak galak sih tapi sebenarnya beliau baik! Iya, seperti Kaoru-chan, hehehe," jawab sang gadis, mata hitamnya berkilat entah karena apa dan ia juga meringis kaku ke arah Kaidou.

"Che!" Respon Kaidou singkat. Ah, tsundere, pasti dalam hati ia senang dipuji oleh Mari. Siapa lagi yang mau memujinya kecuali sahabat gadisnya ini? Eh?

"Seperti siapa?" Momoshiro berteriak tak terima sebelum kemudian tertawa mengejek, "HAHAHAHA JANGAN MEMBUATKU TERTAWA! Mamushi baik dari mananya?" katanya di sela tawanya yang terdengar menjengkelkan.

"Fshuuuuu, apa katamu!" Kaidou yang sepertinya tak terima akan ucapan Momoshiro pun mulai terpancing. Ia mendekati Momoshiro dan menyiapkan tangan kanannya untuk memberi hadiah pada pemuda jabrik itu.

"Ah, dasar tsundere," potong Mari, ia berjalan mendekati keduanya dan menjauhkan Kaidou dari Momoshiro, "kalau ada Kaoru-chan kau selalu mencari masalah tapi saat dia tidak ada kau khawatir setengah mati, khukhukhu," katanya jahil.

"A-apa katamu! Siapa yang khawatir pada si bodoh itu, hah!" Momoshiro menunjuk Kaidou dengan emosi, wajahnya juga terlihat merah. Hmmm, entah itu merah karena marah atau blushing? 

"Siapa yah???" Mari menolehkan kepalanya ke arah Kaidou yang sudah memalingkan wajah darinya, siswi kelas dua ini tersenyuk lucu melihatnya sebelum kemudian berjalan pelan meninggalkan kedua sahabatnya, "Aaaahh... aku baru ingat, saat aku mengatakan Kaoru-chan mengalami masalah, kau langsung berlari dari street tennis dan langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaannya kan? KYAAAAAAAA... MOMO-CHII KAWAAAIII~ Padahal musibah yang dia alami adalah aku yang menyeretnya ke rumah sakit sehingga ia gagal menemuimu. Itu musibah kan yah?"

"....." Momoshiro pun sukses mematung.

"....." dan hal yang sama juga terjadi pada Kaidou.

Momoshiro menggelengkan kepalanya dan menepuk kedua pipinya lucu sebelum kembali mencoba protes ke Mari, "Heh, itu karena kau bilang--" dan kalimatnya terhenti saat ia mengingat sesuatu, "MARIIIIII.... KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN! KAU MENIPUKU!"

"Salah sendiri mau ditipu, hehehe," celetuk Mari sambil menjulurkan lidahnya ke arah Momoshiro yang terlihat semakin merah padam. Dan gadis ini segera mengambil langkah seribu untuk menjauhi Momo yang siap ngamuk kapan saja.

"KAAAAAAUUUU..... JANGAN LARI KAU, HEEEEEEIII!!!"

Kaidou mendesis melihat Mari yang berlari menjauh dari Momoshiro dan Momoshiro yang berteriak mengerjarnya, "Dasar, seperti anak kecil saja!" gumamnya, tapi sedetik kemudian ia tersenyum saat ia mengingat semua ucapan Mari tadi, "Idiot."

Ah dasar pemuda satu ini. Bilang saja ia senang karena Momoshiro mengkhawatirkannya. LOL


The End! 


WAHAAAAAAAA RAMPUNG WOI! RAMPUUUNNGG!!!!!

ADA YAH! LAW JADI DOKTERNYA MARI DAN KETEMU SAMA MOMOKAI! HAHAHAHAHA INDAHNYA DUNIA IMAJINASIKU! #digaplok

Aiihh... Momo-chii manis banget sih aaaahh... khawatir sama Kaoru-chan sampe sebegitunyaaaaa... yhaaaa... HAHAHAHA SASUGA OTP SAYA!!!! Padahal belum dijelasin sama Mari musibahnya apaan, tapi dia langsung ke rumah sakit begitu. HAHAHAHAHAHA ADORABLE BANGET SIH >/////< *banting* #WOI
MomoKai 
Ugh... ugh... ugh... entah mau ngomong apa lagi... makasih buat yang udah baca...

TUMBEN A/N NYA KAYAK GINI DOANG, BIASANYA DIA BERISIK!!! #EH

Sudah gitu doang lah... bye byee~

Monday, 11 May 2015

Momoshiro's Sickness


"Ka-Kaidou-senpai, a-aku... me-menyukaimu."

Prak! 

Roti isi yang baru saja dibeli oleh Momoshiro Takeshi dari kantin sekolah mendadak jatuh dari tangannya saat ia mendengar suara tadi.

Itu sudah jelas suara seorang gadis. Terdengar malu-malu dan agak gagap. Dan ia yakin, ia belum pernah mendengar suara itu sebelumnya. Dan hal aneh pun tiba-tiba terjadi padanya, tangannya mendadak berkeringat dan jantungnya berdetak secara tidak normal.

Hell, kenapa dengannya? Gadis itu 'kan tidak menyatakan cinta padanya? Kenapa malah dia yang gugup.

Padahal tadi biasa saja saat ia tak sengaja melihat Kaidou dan seorang gadis di lorong kelasnya. Saat itu Ia buru-buru bersembunyi di balik lorong untuk mencuri pandang ke arah keduanya. Ia awalnya juga hanya nyengir-nyengir tak jelas saat melihat Kaidou yang selalu blushing di depan gadis itu. Baka Mamushi. Ia bahkan tidak bisa berbicara dengan baik di depan seorang gadis.

Tapi semuanya terasa lain saat gadis itu mengutarakan kalimat tadi. Bahwa gadis itu menyukai Mamushi. Menyukai. Mamushi.

Kenapa kalimat terakhir itu terasa lain sekarang?

Dan seperti yang sudah terjadi, tangan Momoshiro yang harusnya baik-baik saja mendadak berkeringat dan roti isi yang dibawanya pun merosot jatuh dengan lancar tanpa hambatan dan sukses menghantam lantai.

Gadis itu menyatakan cinta kepada Mamushi. Apa ia tidak salah dengar? Yang benar saja. Jangan membuatnya tertawa.

Momoshiro mengambil kembali roti isinya dan mengangkat sebelah alisnya. Ia pasti hanya syok saja karena ada juga ternyata gadis yang menyukai Kaidou. Kaidou loh, Kaidou.... Ia tidak akan syok sampai seperti ini kalau gadis itu menyatakan cinta kepada Fuji-senpai atau Eiji-senpai. Iya, pasti begitu.

Tapi ini--Kaidou.

Pemuda yang bahkan tidak memiliki sisi menarik sama sekali di matanya. Lihat saja wajahnya, teman-teman sekelasnya saja merinding hanya dengan melihatnya. Saat ia melihatnya pun, rasanya ingin sekali memukulnya atau setidaknya mengejek dirinya. Lalu, apa yang gadis itu sukai dari Mamushi?

Rambut hitamnya? Tidak pasti bukan itu, rambutnya membosankan. Mata hitamnya? Anak kecil juga tahu kalau matanya itu mengerikan. Bibirnya juga membosankan. Tapi, Kaidou memang memiliki sisi lembut sih, terutama pada hewan, seperti halnya saat ia menyelamatkan Lucky (nama aslinya bukan Lucky, itu hanya panggilan dari Momoshiro) yang terjebak di sungai.

Lha? Kenapa ia malah memikirkan sisi baik dari Kaidou???? 

Dan memori Momoshiro pun akhirnya dipaksa kembali mengingat kejadian sebelum partai final kantou turnamen itu, saat dirinya dan Kaidou bersama-sama menyelamatkan Lucky.



Disclaimer: Takeshi Konomi  



Saat itu--Momoshiro memejamkan mata dan menyenderkan tubuh tegapnya ke tembok--Kenapa saat itu ia kembali ke sungai itu? Padahal Kaidou sudah menyuruhnya untuk pergi duluan ke tempat pertandingan. Tapi memang saat ia tengah berlari menuju tempat dilaksanakannya pertandingan penting itu, bayangan Kaidou yang sedang dilanda kesulitan tiba-tiba menyeruak ke dalam pikirannya.

Dan tanpa berpikir panjang, ia pun berbalik arah dan kembali ke sungai yang sempat ia lewati bersama Kaidou itu. Benar saja, saat ia sampai, ia melihat Kaidou yang hampir tenggelam dengan Lucky di pelukannya. Dasar bodoh. Dia bilang akan baik-baik saja tapi kenapa sampai seperti itu.

Perasaan cemas yang entah datang dari mana juga tiba-tiba menguasai Momoshiro. Hah? Ia mencemaskan Kaidou? Jelas bukan, Ia mencemaskan Lucky, kok. Lucky... anjing kecil yang berada di dalam pelukan Kaidou.

Ya, mungkin ia sedikit mengkhawatirkan Kaidou juga. Sedikit. Hanya sedikit.

Saat itu Momoshiro juga berteriak kencang memanggil nama Kaidou yang terlihat kesulitan karena hanya berenang dengan satu tangan, ia melemparkan tali ke arah Kaidou yang dengan sangat cekatan ditangkap olehnya. Bayangkan betapa leganya ia saat itu?

Hah? Lupakan masalah itu.

Dan anehnya, saat Kaidou bertanya kenapa ia kembali datang, dirinya dengan percaya diri menjawab karena kau tidak bisa bermain doubles seorang diri. Tapi sekarang ia malah meragukan jawabannya. Apa benar ia menolong Kaidou karena itu?

Momoshiro perlahan membuka matanya dan menghela nafas, ia ingat, ia juga pernah merasakan perasaan seperti sekarang ini saat ia mengira gagal menolong Kaidou di sungai itu. Ia merasa takut--kehilangan. Eh, bukan, bukan, bukan, ia tidak merasakannya, tidak, tidak.

Momoshiro menggelengkan kepalanya dengan semangat. Tapi, diakui atau tidak, ia memang mencemaskan Kaidou, sih, saat itu.

Plak!

Momoshiro memukul pelan kedua pipinya dengan tangan saat pikirannya sudah terlalu jauh melenceng ke mana-mana. Apa yang kau pikirkan, hah!

Mencoba mengesampingkan apapun itu yang sekarang tengah berkecamuk di dalam dadanya, Momoshiro kembali menoleh ke arah lorong dan kedua orang tadi masih saja berdiri di sana. Heh?

Gadis yang ia yakini telah menyatakan cinta kepada Kaidou itu memunggungi dirinya, tapi gadis itu terlihat kecil dengan rambut coklat sebahu, sepertinya dia gadis yang manis. Dan kenapa dari tadi ia tidak memperhatikan gadis itu, sih? Iya, dari tadi ia hanya fokus menertawai ekspresi Kaidou.

Kali ini pandangan Momoshiro beralih memperhatikan sang rival yang masih berdiri kaku seperti patung. Dasar bodoh. Tapi sedetik kemudian, mata ungu milik Momoshiro sukses membulat saat menangkap ekspresi (yang aslinya sih dari tadi sudah ada) pada wajah Kaidou.

1

2

3

"Au, ittai!" Momoshiro meringis kesakitan saat ia secara sadar mencubit pipi kanannya, ia benar-benar tidak bermimpi. Ia mengedipkan matanya berkali-kali dan mencoba kembali fokus ke sang rival--yang--tengah--blushing.

Blushing.

Kenapa ia baru memikirkannya, wajah blushing dari Kaidou itu. Eerrr-adorable.

....... WHAT THE HELL ARE YOU THINGKING ABOUT!

"Jadi, a-apa jawaban Senpai?"

Momoshiro berhenti mengacak rambutnya saat gadis itu kembali bersuara. Benar juga. Apa jawaban dari Kaidou. Apa ia akan menerima gadis itu? Atau menolak?

Kenapa dia jadi begitu penasaran pada rival-nya seperti ini?

"Keh!" Momoshiro akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat persembunyiannya, enggan mencuri dengar lebih lanjut lagi dan mulai berjalan meninggalkan lorong kelas. Ia tidak mau kembali ke kelas sekarang, mungkin ia akan makan siang di atap.

Ia tidak peduli apapun jawaban dari Kaidou. Serius. Ia benar-benar tidak peduli.

Tapi ia penasaran. Che, kuso! Kenapa dirinya jadi aneh begini.



A Prince of Tennis fanfiction by Mari Chappy Chan



"Lihat ke mana kau melangkah, Idiot!" 

"Kenapa kau marah, hah!" 

"Kau ini kenapa, kau tidak seperti biasanya, permainan tenismu buruk sekali, Ahou!" 

"Keh, memangnya permainanmu sebagus apa, kau juga salah karena tidak melihat arah dengan baik!" 

"Kau yang menabrakku dan kau malah menyalahkanku, dasar bodoh!" 

"Karena semuanya memang salahmu, Baka Mamushi! Kau membuat konsentrasiku buyar!" 

"Hah?" 

"Jangan berlagak tidak tahu!" 

"Hah?" 

"Kau bodoh--" 

Momoshiro menarik kerah jersey milik Kaidou dan menariknya mendekat dan tentu saja Kaidou juga melakukan hal yang sama. Keduanya membenturkan kepala masing-masing ke arah sang rival. Momoshiro memberikan deathglare terbaiknya kepada si ular bodoh yang benar-benar bodoh itu yang tiba-tiba membentaknya. Dan sepertinya Kaidou juga melakukan hal yang sama. 

Yah, sebenarnya itu salahnya juga karena dirinya yang memang lebih dulu menabrak Kaidou. Ah, akhirnya ngaku juga. 

Pikirannya tiba-tiba kembali kacau saat bertatap muka dengan pemuda itu dan bermain doubles dengannya. Rasa penasarannya tentang gadis tadi kembali muncul ke permukaan. Apa jawaban Kaidou sebenarnya? 

Karena sibuk memikirkan hal itu, iapun gagal fokus dalam pertandingan dan berakhir menabrak Kaidou, akibatnya? Selain Kaidou yang marah-marah padanya, mereka juga kehilangan servis game

Tapi mana mungkin ia mau mengakui hal itu. Apalagi di depan Kaidou sendiri. Hell, no! 

BIG NO!!! 

JUST NO!!! 

Sementara Eiji dan Fuji yang menjadi lawan mereka dalam latihan kali ini hanya bisa menatap keduanya dengan pandangan heran, "Ne, itu 'kan hanya masalah kecil, kenapa kalian cepat sekali tersulut emosi?" kata Eiji, ia berkedip sekali sebelum menatap sahabatnya yang seperti biasa hanya menguarkan senyumnya. 

Tapi baik Momoshiro maupun Kaidou seakan tak mendengar perkataan Eiji dan masih sibuk akan dunia mereka sendiri. Perang deathglare dengan sang Rival. 

"Permainanmu tenismu payah, Mamushi, kau tahu itu, hah?" 

"Permainan tenismu lebih payah, Baka!

"Kau benar-benar menyebalkan, Mamushi jelek!" 

"Berhenti memanggilku Mamushi, Idiot!

"Siapa yang kau panggil idiot, Mamushi!

"Jelas saja kau, Momoshiro Idiot!

"Mamushi, Mamushi, Mamushi!" 

"Fshuuuuu." 

Momoshiro menyeringai memperhatikan Kaidou yang hanya bisa mendesis kesal karena ucapannya, ia bahkan melupakan perasaannya yang sempat kacau tadi. Sepertinya bertengkar dengan Kaidou sedikit membuat perasaannya menjadi lebih baik. 

Sedikit loh yah.Perlukah ia ulangi. Hanya sedikit. SE-DI-KIT! 

"Momoshiro! Kaidou! 50 lap!"

Momoshiro dan Kaidou spontan melepaskan cengkeraman tangan mereka dari keras sang rival dan saling menjauhkan diri saat mendengar suara tadi. Itu suara kapten mereka--Tezuka Kunimitsu.

"Buchou," keduanya menggumam kompak saat melihat kapten klub tenis Seigaku itu sudah berdiri di depan lapangan tempat pertandingan dengan melipat tangan di dada. Dan karena protes pun percuma (malah hukuman lari bisa nambah lagi kalau protes) keduanya pun segera berlari mengelilingi lapangan Seigaku. Sebanyak 50 kali. Keren sekali.

Momoshiro sekali lagi memberikan deathglare nya kepada Kaidou yang hanya bisa mendesis. Mamushi bodoh.

Keduanya kali ini sibuk bersaing dalam hukuman lari mereka. Saking sibuknya bertukar tatapan dan desisan tidak penting, keduanya bahkan melupakan kalau dalam pertandingan melawan Dream Pair tadi mereka tertinggal 4-2.


Momoshiro's Sickness 

A story about the cutest Frenemy ever: Rival Pair 

Main Chara: Momoshiro Takeshi and Kaidou Kaoru

Rate: K.... kayanya sih. atau K+ atau malah T *RATE-NYA GAK JELAS*

Genre: Humor dan nyerempet romens yang juga gak jelas (???)

A/N: Ini sebenarnya fict spesial buat ultahnya Kaoru-chan yang jatuh hari ini, 11 mei... tapi pada dasarnya tulisanku rada bagaimana gitu (?) akhirnya ini fict malah jadi tempat curhatnya Momo-chii *ngubur diri*

Selamat membacaaaaa~~~ 



Jantung Momoshiro mendadak berdegup sangat kencang dan ia merasa seperti disambar petir di hari yang teramat cerah saat ia melihat Kaidou kembali berbincang dengan gadis yang tadi pagi--di depan gerbang Seigaku.

Ia berniat pulang lebih cepat sih sebenarnya, ia merasa tidak enak badan, serius. Maka dari itu ia minta izin kepada sang kapten untuk pulang lebih awal. Dan seperti biasa, Echizen sempat meragukan alasannya. Kouhai kurang ajar.

Tapi beruntung baginya ada Oishi Syuichirou yang mempersilahkannya pulang lebih awal karena alasan sakit tadi. Ah, Oishi-senpai benar-benar terlalu baik.

Dan ia benar-benar tidak bohong, saat ia melihat Kaidou bersama gadis itu, rasa sakit yang tadi ia rasakan kembali muncul, seperti telapak tangannya yang mendadak berkeringat misalnya dan jantungnya yang juga mengajaknya maraton, ugh, ia merasa ingin muntah karena perutnya juga tiba-tiba terasa tidak nyaman.

Momoshiro menuntun sepedanya menjauh dari gerbang menuju sebuah pohon yang cukup besar dan ia yakin cukup aman untuk menyembunyikan diri dan mencuri dengar dan yang jelas cukup jauh dari jangkauan pengelihatan dua orang itu. Ia menelan ludah gugup saat mata ungunya menatap wajah gadis kelas satu itu.

Gadis itu sangat manis. Kenapa gadis manis itu menyukai Kaidou? Apa yang sebenarnya ia lihat dari Mamushi menyebalkan itu. Ia hampir setiap hari bertatap muka dengan Kaidou, dan menurutnya, memang tidak ada yang menarik sama sekali sih dari si pengoleksi bandana itu.

"Aku--"

Momoshiro masih mencoba menajamkan pendengarannya, ugh, bisa tidak sih si Mamushi itu bicara lebih keras. Ia kesulitan mendengar suaranya dari jarak sejauh ini.

Tapi sedetik kemudian wajah gadis yang berada di depan Kaidou itu memerah seperti tomat. Bukan, dari tadi wajah gadis itu memang sudah bersemu tapi ia yakin kalau sekarang lebih merah lagi.

Apa jangan-jangan... Kaidou... membalas perasaannya?

Ugh!

Momoshiro menutup mulutnya saat perutnya tiba-tiba bergejolak aneh, ia tidak boleh muntah sekarang. Sial, apa benar ia sakit? Kepalanya juga mendadak pusing.

Kali ini Momoshiro membalik tubuhnya dan sepenuhnya menyender di balik pohon. Ia kembali merasakan perasaan aneh, seperti takut.

Takut? 

Entahlah apa yang ia takutkan sebenarnya, ia juga tidak tahu. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ia merasa udara di sekelilingnya lenyap begitu saja dan menyebabkan dirinya kesulitan bernafas.

Apakah semuanya akan berubah setelah Kaidou menjalani hubungan dengan gadis itu?

Hei, hei, kenapa dirinya terdengar seperti cewek yang sedang galau karena urusan percintaan sih. HELL, APA YANG KAU PIKIRKAN. Dirinya bukan perempuan dan ia tidak peduli pada Kaidou.

Titik!

Sekali lagi. Ia tidak peduli!

Dan saat Momoshiro berniat untuk keluar dari persembunyiannya, ia kembali dibuat terkejut karena Kaidou dan gadis tadi sudah tidak ada di depan gerbang Seigaku.

"Ke mana mereka?" gumamnya, ia menoleh ke sekeliling untuk mencari keduanya tapi ia tidak melihat siapapun. Cepat sekali mereka menghilang? Atau jangan-jangan, dirinya yang terlalu lama melamun? Loh? Momoshiro menarik sepedanya dari balik pohon dan mulai mengayuhnya secara perlahan.

Oh ia harus segera pulang. Mungkin lebih baik ia menemui dokter, ia harus tahu kenapa dirinya jadi aneh seperti ini.


Momoshiro's Sickness 


Esok harinya Momoshiro benar-benar merasa sakit dan ia tidak mau pusing-pusing memikirkan urusan sekolah. Seharian ini ia hanya berguling-guling di tempat tidurnya. Ia terlihat sedikit lebih lemas dan tidak seperti biasanya. Energinya yang biasanya tumpah-tumpah itu juga seakan terkuras habis. 

Kepalanya pusing. Dan perasaan aneh yang hanya kambuh saat ia mengingat Kaidou juga masih menempel di dirinya. Sakit sialan. Ia ingat, kemarin saat pulang sekolah ia langsung meluncur ke kamar mandi dan mengeluarkan semua makan siangnya lewat mulut. Ewh. 

Dan semalam ia mengulanginya lagi, ia memuntahkan semua makan malamnya dan tubuhnya benar-benar terasa lemas. 

Kaidou menyebalkan. Berani sekali dia membuatnya sakit seperti itu. Awas saja kalau aku bertemu denganmu. 

Tapi tiba-tiba Momoshiro menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak, tidak, Ia tidak mau bertemu dengan Kaidou sekarang. Atau paling tidak tunggu sampai ia kuat untuk mematahkan tulang hidungnya. Itu ide yang bagus. Hahaha... 

Saat ia mengatakan tidak mau bertemu Kaidou, itu berarti ia benar-benar tidak mau bertemu Kaidou untuk saat ini, sudah jelas 'kan? Pasti akan sangat memalukan kalau rival-nya itu melihatnya dalam kondisi seperti ini. Dan parahnya, ini semua karena dirinya. 

Apalah, kalau memang mau pacaran dengan gadis itu, ya sudah, jangan pedulikan dirinya. Hei, lagipula, siapa yang peduli pada Momoshiro? Kaidou 'kan tidak mengatakan apapun padanya. Oh, dia benar-benar sombong hanya karena ada seorang gadis manis yang menyatakan cinta. Dan melupakannya begitu saja. Oke. Fine! 

Sebentar, kenapa ia terdengar homo sekali. Tidak, tidak, ia masih normal! dan ia sakit bukan karena memikirkan Kaidou akan meninggalkannya. Oh please, itu terdengar lebih menggelikan. Ia sakit pasti karena kebanyakan burger. 

Loh, selama ini ia jarang muntah kok kalau makan banyak burger. 

Ugh, Siaaaaalll-- 

Tok Tok Tok! 

Ketukan pelan pada pintu kamarnya membuat Momoshiro yang dari tadi mengomel tak jelas dalam pikirannya mendadak diam. Ia mengangkat alisnya dan beralih menatap pintu berwarna coklat yang menghubungkan kamarnya dengan bagian luar. 

Ia menatap pintu itu seperti seorang anak yang mencoba menebak apa isi kado ulang tahunnya. 

"Eh?" gumamnya. Siapa yang tumben sekali mengetuk pintunya. Pasti bukan ibunya, ya memang ibunya kadang mengetuk pintu kamarnya tapi tak perlu menunggu responnya, ibunya itu pasti akan langsung masuk saja. Tapi orang yang mengetuk pintu tadi belum juga membuka pintu.  

Dan yang jelas itu juga pasti bukan adik-adiknya. Kedua adiknya mana bisa sopan kepada kakaknya ini. Mereka pasti akan langsung menerobos masuk ke kamarnya seolah kamarnya ini adalah kamar mereka. 

Adik-adik yang sangat menyebalkan. 

Ayahnya? 

Momoshiro menghela nafas, tidak mungkin ayahnya, ayahnya 'kan kerja. 

Lalu sia-- 

"Momoshiro, kau di dalam?" 

Mata ungu milik Momoshiro terbelalak kaget saat telinganya mendengar suara yang berasal dari balik pintunya. Dan keringat pun mulai membasahi telapak tangannya saat otaknya selesai mencerna siapa pemilik suara itu. Itu suara Kaidou. Kaidou Kaoru.

Hah? Yang benar saja. Apa yang si bodoh itu lakukan di sini. 

Nafas Momoshiro mulai tersengal karena terlalu gugup. Ugh, sial, rasa sakitnya kembali datang dan ia ingin muntah. Lagi. 

Momoshiro masih diam dengan mata yang masih betah menatap pintu kamarnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Padahal ia sudah bilang tidak mau bertemu dengannya hari ini. Ia akan menghajarnya kalau dirinya sudah sehat lagi. Iya 'kan? Lha, tapi kenapa dia malah ke sini? 

Kaidou jelek. Tidak bisakah ia menyingkir dari hidupnya sehari saja. 

Momoshiro mengusapkan telapak tangannya yang berkeringat ke piyama bergambar bebek yang ia pakai. Sial. Ia benar-benar tidak mau Kaidou melihatnya dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Ia jelas tidak mau harga dirinya jatuh di depan sang rival. 

Tapi, aduh, itu-- 

BERHENTI MENGGAGAP, BODOH! DIA HANYA KAIDOU! 

Apa yang harus ia lakukan agar Kaidou pergi dari rumahnya, kalau perlu pergi saja dari hidupnya. Selamanya. Ya, itu lebih baik.

Oh, mungkin jika ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun Kaidou akan mengira dia tidur dan pergi. Itu ide yang-- 

"Ibumu mengatakan kau tidak tidur." 

SIAL!!!! 


Momoshiro's Sickness 



Tak ada pilihan lain. Pikir Momoshiro. 

Ia membungkus tubuhnya dengan selimut dan mulai meninggalkan kasurnya tercinta dan menuju dunia yang sangat tidak ingin ia lihat--atau lebih tepatnya--orang. Iya, orang menyebalkan dan super bodoh yang sudah menyebabkannya sakit seperti ini. 

Oh, ralat, ia sakit bukan karena Kaidou. Hahahaha... Mana mungkin. Hahahaha... 

Langkahnya menuju pintu kamarnya yang biasanya selalu ia lakukan dengan langkah super ringan hingga ia tidak tahu berapa detik yang ia perlukan untuk melewatinya itu kali ini terasa sangat berat. Seolah ia telah memasangkan pemberat di kedua kakinya. Dan tangan kanannya yang terulur untuk meraih knop pintu juga mulai gemetar. 

Heh, berhenti berpikiran aneh dan tangan bodoh, berhentilah gemetaran!

Kriieeeett~

Suara pintu yang berdecit mulai memenuhi ruangan dan benar saja, di depan kamar Momoshiro terdapat satu sosok yang sudah ia duga sebelumnya. Kaidou.

Pemuda itu masih mengenakan seragam summer Seigaku, tas tenisnya juga masih menempel di punggungnya, wajahnya tetap menyebalkan seperti biasa. Ingin sekali ia menonjoknya. Dan ia juga tidak mengenakan bandana. Oh, wajar saja, dia 'kan tidak sedang bermain tenis.

Mata hitamnya juga menyebalkan, apalagi dengan tatapan datarnya itu. belum lagi kalau ia mulai mendesis--

"Berhenti menatapku seperti itu, fshuuu," ucap Kaidou tak lupa desisan khasnya.

Wajah Momoshiro memanas secara perlahan saat menyadari bahwa dirinya dari tadi memperhatikan rival-nya tanpa berkedip. Ih, ingin sekali ia lari ke atap dan melompat dari sana. Mati jatuh dari atap terdengar lebih elit daripada mati karena malu.

Momoshiro mengalihkan pandangan dan mempersilahkan Kaidou memasuki kamarnya. Ia juga mulai berjalan kembali ke kasurnya dan merapatkan selimutnya.

"Sensei memintaku membawakan pr-mu," kata Kaidou dengan nada pelan, ia mengangsurkan sebuah buku bersampul coklat ke arah Momoshiro yang sudah menyamankan diri di tempat tidurnya.

Momoshiro mendengus. Oh, jadi dia datang cuma untuk mengantarkan pr? che, tidak peduli kah dia kalau dirinya sakit?

PLAK!

Momoshiro menampar pipi kanannya saat pikirannya kembali melenceng. Pikiran bodoh!

Kaidou mengangkat alisnya, "Kau ini kenapa?" tanyanya pelan, mungkin ia heran kenapa Momoshiro memukul dirinya sendiri.

"Urusai!" respon Momoshiro, ia mengusap pipinya yang memerah, masih enggan menatap tamunya. Ia tidak yakin pipinya yang merah itu karena pukulannya atau karena hal lain.

"Baiklah, aku pergi."

Momoshiro mendelik. Apa? Hanya begitu saja dan dia langsung mau pulang? Ia bahkan tidak menanyakan bagaimana keadaannya? Dan kenapa dirinya tidak berangkat sekolah!

Mamushi bodoh!

"Eh?"

Semuanya terasa begitu cepat hingga Momoshiro pun tidak menyadari apa yang sudah terjadi, Kaidou tiba-tiba berada sangat dekat dengannya. Mata Kaidou juga melebar menatapnya.

OH, SIAL, APAKAH DIRINYA SECARA TIDAK SADAR SUDAH BERJALAN MENDEKATI KAIDOU DAN MENARIK KEMEJA PUTIHNYA!

MOMOSHIRO, KAU GILA!

"A-aku, mau bicara, sebentar," ucap Momoshiro pada akhirnya, ia perlahan melepaskan seragam Kaidou dan memandang ke sekeliling. Di manapun asalkan bukan mata Kaidou.

KENAPA DENGANNYA.

"Oh," Kaidou menggumam lemah sebelum akhirnya mengalah dan kembali masuk ke kamar Momoshiro.

Butuh sekitar lima detik bagi otak Momoshiro untuk mencerna apa yang terjadi.

Ia.

Meminta,

Kaidou.

Tinggal.

Sebentar.

Di ... Kamarnya.

WHAT THE!


Momoshiro's Sickness 



"Kau ini mau bicara apa, bodoh! Dari tadi kau hanya diam." 

Momoshiro nyengir kaku dan mengusap belakang kepalaya. Benar juga, mereka hanya diam saja dari tadi. Dan jujur saja, mekipun dia terlihat diam saja tapi lain lagi dengan isi kepalanya yang terus-terusan berteriak. Ia tidak tahu isi pikirannya apa. Dan ia tidak mau memikirkannya. 

"Kalau tidak ada yang penting, lebih baik aku pulang." 

"Eh? Matte! etto--

Kenapa dia jadi gagap begini!! 

"Apa!" 

"Jangan membentakku, bodoh! Kau tidak tahu, aku ini sedang sakit!" bentak Momoshiro, ia memukul pelan lengan Kaidou dengan tenaga seadanya--yang jelas itu tidak sakit. Momoshiro bahkan tidak punya cukup tenaga untuk memberikan sebuah deathglare kepada siapapun saat ini--Sedangkan Kaidou sendiri hanya mendengus. 

"Ne, Kaidou," Momoshiro mulai berucap, ia menyenderkan tubuhnya ke tembok dan memeluk bantalnya. Mata uniknya menerawang jauh lewat jendela kamarnya. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, "Apa kau.... sedang jatuh cinta pada seseorang?" 

"......." 

Oh, apa yang sudah ia tanyakan?

Momoshiro berusaha mengacak rambutnya tapi saat ia menyadari bahwa Kaidou masih belum menjawabnya, iapun mengurungkan niatnya mengacak rambut dan beralih menatap Kaidou. Sekali lagi ia melihat wajah Kaidou yang memerah. 

Dan sialnya, kenapa ia merasa kalau wajahnya juga ikut memerah? Ugh, Momoshiro benar-benar mengutuk otaknya yang tiba-tiba menanyakan hal memalukan begitu! 

"Bukan urusanmu," jawab Kaidou singkat, ia mulai bangkit dari duduknya dan berniat meninggalkan kamar. 

"Aku melihatnya," Momoshiro memotong dengan cepat dan berhasil, akhirnya Kaidou kembali berbalik arah.

"Kau--" mata hitam milik Kaidou membulat, "melihat apa?" tanyanya, wajahnya sudah tidak ada bedanya dengan rambut milik Kikumaru Eiji. Kaidou juga terlihat--gugup. 

Jangan-jangan... 

"Melihat gadis itu..." Momoshiro memutar matanya, enggan menatap pemuda yang kembali mendudukkan diri di tempat tidurnya itu, "dan kau. Dua kali." 

"......" 

Oh, sial, sepertinya rasa penasarannya sudah menguasainya sekarang. Ia sudah bertanya 'kan? Dirinya benar-benar tidak bisa mundur sekarang. Sudah terlanjur. 

"Oh." 

Suara Kaidou yang tiba-tiba itu sukses membuat jantung Momoshiro hampir melompat dari dadanya. Menyebalkan. Bisa tidak sih, tidak mengagetkannya. 

"Namanya Akira Izumi," Kaidou mulai bercerita, "Dia satu kelas dengan Mizuno, dia gadis yang baik." 

.......... 

Momoshiro tidak tahu apa yang sudah merasuki dirinya tapi rasanya ingin sekali ia melemparkan bantalnya ke arah Kaidou yang malah bercerita tentang gadis itu. 

Yang dia tanyakan 'kan bukan itu. Kaidou benar-benar bodoh, bodoh level nasional. 

"Dia juga--eerr--menyatakan cinta, padaku."

Susah payah Momoshiro menelan ludahnya, ia merasa seperti menelan pasir, tangan yang berada di dalam selimutnya juga kembali berkeringat dan ia merasa mual. Tapi ia tidak bisa muntah sekarang. Apalagi di depan Kaidou.

"Dan aku--"

Momoshiro mengangkat tangan kanannya, memberi tanda kepada Kaidou untuk menghentikan ucapannya, ia memegang perutnya dan pundaknya bergetar. He? Dia menangis?

"Momo--"

"Bahahahahaha.... ahahahaha," Momoshiro tertawa keras, ia bahkan menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya karena terlalu kencang tertawa, "Mamushi, kenapa kau jadi serius begitu, ahahahaha," lanjutnya, tawanya belum berhenti sama sekali.

Oh, jadi pundaknya bergetar karena dia menahan tawa? Bukan menahan tangis? PENIPU!

"Seharusnya, kau lihat wajahmu, Mamushi, kau lucu sekali, ahahahaha, aku benar-benar tidak bisa manahannya lagi."

Mungkin jika sebuah benda bulat berwarna kuning cerah tidak mengenai kepalanya, Momoshiro masih akan terus tertawa seperti orang tidak waras. Tapi beruntunglah, Kaidou dengan cekatan melemparkan bola tenis itu ke kepalanya dan menyelamatkan Momoshiro dari penyakit gila mendadaknya.

"Hei, sakit tahu, Mamushi!" Momoshiro mendengus, ia mengusap keningnya yang baru saja mendapat jackpot dari sang rival.

"Idiot! Bagaimana kau bisa tertawa di saat aku serius mengatakan--" Kaidou menghentikan ucapannya dan buru-buru memalingkan wajahnya yang merah padam. Mungkin dia marah karena Momoshiro menertawakan curhatannya.

Momoshiro kau Idiot!

"Oi, oi, aku 'kan hanya bercanda."

Momoshiro merasa menjadi orang terbodoh di dunia. Iya benar. Sekarang ia tahu kenapa Kaidou selalu memanggilnya baka. Panggilan itu memang sangat dirinya sekali.

Momoshiro mencengkeram bantalnya dan menunduk. Suasana di dalam kamar Momoshiro juga terasa aneh. Tak ada yang bersuara di antara mereka.

Ia dan bahkan Kaidou masih berdiam diri. Mungkin sibuk akan pikiran masing-masing.

Jujur saja, Momoshiro tidak mengerti akan dirinya sendiri. Ia merasa asing akan dirinya sendiri. Bodohnya! Harusnya ia tidak bertanya apapun pada Kaidou! Biar saja dia mau punya pacar kek, atau berkencan dengan gadisnya kek, ia tidak peduli.

Seharusnya begitu 'kan? Tapi tindakan dan pertanyaannya tadi sudah benar-benar bertentangan dengan isi pikirannya, itu sudah di luar akal sehat--

"Aku menolaknya."

--nya. Hah?

Momoshiro segera menatap Kaidou yang baru saja menginterupsi isi pikirannya. Ia menatapnya seolah Kaidou baru saja mengakui kalau dia adalah alien yang menyamar jadi manusia. Atau lebih tepatnya dia adalah ular jejadian yang mengakui identitas aslinya di depan Momoshiro. Sang Rival.

"Hah?" lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Momoshiro. Ia syok. Jelas. Ia tidak bertanya masalah itu 'kan? Ia hanya ingin tahu tentang Kaidou dan gadis itu--Loh, bukankah jawaban Kaidou tadi sudah menjawab rasa penasarannya? He????

"Hah?" untuk kedua kalinya Momo menyerukan hal serupa. Ingin sekali ia mengubur dirinya saat ini juga karena merasa sangat bodoh! Sekali lagi Momoshiro menelan ludahnya sebelum bertanya lebih lanjut, "Kenapa?"

Dan wajah Kaidou kembali bersemu. Oh, tidak bagus, berhentilah blushing di depannya, Mamushi bodoh!

"A-a-entahlah, aku belum mengenalnya dengan baik," Kaidou mengusap rambut hitamnya, salah satu hal yang sering ia lakukan jika sedang gugup. Oh, keren, Momoshiro bahkan tahu tentang Kaidou sampai sebegitunya.

"Mungkin kita bisa memulai dari hubungan pertemanan," Kaidou mengakhiri ucapannya, masih enggan menatap Momoshiro.

Oh... jadi itu alasannya, yah? Oh... hei, tunggu, kenapa sudut bibir Momoshiro terangkat secara alami begini, ia juga merasa lega dan sangat senang, perasaan yang mirip dengan saat ia memenangkan turnamen nasional bersama teman-temannya. Kok bisa?

"....." Momoshiro tidak tahu harus berkomentar apa, sekarang ia malah ikut-ikutan mengusap belakang kepalanya, yah, sudah bisa dipastikan kalau pemuda ini juga gugup. Kalau tadi ia baru merasa seperti orang bodoh, maka sekarang ini ia benar-benar menjadi orang bodoh. Hahahaha...

"Kenapa kau nyengir begitu, ahou!"

"Ahahaha, tidak kok, tidak, ahahahaha," cengiran masih saja terpeta di wajah Momoshiro, ia benar-benar tidak bisa menahan senyumnya, anggap ia bodoh atau apapun terserah, ia tidak peduli. Tubuhnya mendadak terasa ringan seolah beban yang kemarin-kemarin sempat hinggap di sana lenyap tak bersisa.

"Baka!" bentak Kaidou.

"Ne, ne, Kaidou, kau sadar tidak, saat melawan Fuji-senpai dan Eiji-senpai kemarin, kita kalah, lain kali kita harus menang, oke?" ucap Momoshiro, ia tidak bisa menahan diri untuk mengatakannya, ia merasa jauh lebih baik sekarang, hah, ke mana rasa sakit yang tadi ia rasakan? Dan juga hasrat ingin mematahkan hidung Kaidou?

Ha, sudahlah... 

"Itu karena permainan burukmu, Idiot!"

"Oi, oi, saat itu aku sedang banyak pikiran, ahahaha," oh...

"Kau? Berpikir? Huh, sejak kapan kau berpikir?"

Jiiiiiiiitt!

Empat sudut berbentuk siku langsung nempel di jidat sebelah kiri Momoshiro saat mendengar ucapan Kaidou. ia melancarkan deathglare terbaiknya ke arah pemuda yang hobi mendesis itu. Sial, selamanya Mamushi itu memang menyebalkan. Dan ia mengutuk dirinya sendiri kenapa sempat-sempatnya memikirkannya sampai jatuh sakit.

Eh, ia tidak memikirkannya kok. Siapa yang memikirkan si ular bodoh itu.

"Apa maksudmu, Mamushi!" Momoshiro menegakkan tubuhnya yang dari tadi menyender di dinding dan menatap Kaidou dengan tatapan mematikan a la dirinya.

"Kau bodoh!" kata Kaidou tenang.

"Nani! Ucapkan sekali lagi!" Momoshiro benar-benar tidak peduli apakah dirinya masih sakit atau tidak, ia benar-benar ingin menghajar Kaidou. Sekarang juga.

"Fshuuuuuu."

"Berhenti mendesis!"

"Berhenti memasang wajah bodoh!"

"MAMUSHIIIIII!!!"


Momoshiro's Sickness 


Hari berikutnya Momoshiro kembali berangkat ke sekolah dengan semangat seperti biasa. Rasa sakit yang kemarin ia rasakan seakan hanya mimpi belaka. Ia menuju Seishun Gakuen sembari mengayuh sepeda kesayangannya. 

Hari ini ia dan Kaidou akan meminta pertandingan yang kemarin itu diulang kembali. Mereka yakin kali ini pasti bisa mengalahkan Dream Pair. 

Lihat saja. 

Sesaat setelah sampai di Seigaku, Momoshiro segera memarkirkan sepedanya ke tempat parkir dan menguncinya. Ia menyelipkan kunci dengan gantungan buah peach itu ke saku celananya dan berniat menuju lapangan tenis untuk mengikuti latihan pagi. 

Dan betapa terkejutnya Momoshiro, saat ia memutar tubuhnya dari tempat parkir, ada seorang gadis yang tiba-tiba berada di depannya. 

Gadis itu nampak tidak asing. Ah, itu kan gadis yang kemarin Kaidou ceritakan? Siapa kemarin namanya? 

"Eee--" 

"Apakah kau, Momoshiro Takeshi-senpai?

Momoshiro mengangkat alis. Gadis ini tahu tentang dia? Oh, wajar saja, dia 'kan kouhai-nya, mungkin saja Mizuno juga sering bercerita tentang dirinya 'kan? 'kan? 

"Hai," jawab Momoshiro setengah bingung, "Kenapa?" tanyanya. 

Gadis di depannya menggeleng, wajahnya terlihat bersemu dan ia menguarkan senyuman yang sangat manis ke arah Momoshiro, "Iie, Ohayou gozaimasu, Momoshiro-senpai," gadis itu tertawa kecil sebelum melenggang meninggalkan Momoshiro yang terbengong seperti orang bodoh. 

"Hah?" 

Sudah. Begitu saja? Apa maksudnya itu? 

Sudahlah, mungkin dia hanya ingin menyapa senpai-nya yang keren ini 'kan? Begitulah kouhai yang baik, tidak seperti Echizen yang sangat tidak menghargainya sebagai seorang senpai. 

"Ya, pasti begitu, ahahaha," Momoshiro tertawa kaku, ia menggaruk belakang lehernya. Ia tertawa sendiri. Seperti orang bodoh saja

"Kau memang bodoh!" 

Lagi, suara menyebalkan itu menginterupsi dirinya. Dan dari mana pemilik suara menyebalkan itu tahu kalau dirinya berpikir kalau ia bodoh? Jangan-jangan isi pikirannya yang terakhir itu tidak hanya ia ucapkan dalam pikirannya? 

"Urusai!" pekik Momoshiro. 

"Fshuuuuu." 

Dan desisan itu. Sudah tahu 'kan siapa pemiliknya? 

"Yo, Kaidou," Momoshiro menolehkan kepalanya, menatap seorang pemuda yang sepertinya baru saja sampai ke sekolah. Ia mengeluarkan seringai menyebalkannya seperti biasa, "Sepertinya gadis yang kemarin kau tolak itu menyukaiku," ucapnya (terlalu) pede. 

Kaidou Kaoru mengangkat alisnya, "Hah?" 

Momoshiro menggelengkan kepalanya sok dramatis dan berjalan mendekati Kaidou yang masih memasang wajah aneh di depannya, "Mamushi, kau tidak tahu kah? Gadis itu yang siapa namanya? Ya, itulah, tadi pagi menemuiku di tempat parkir dan menanyakan apakah aku Momoshiro Takeshi dan dia tersenyum. Wajahnya yang merona itu sangat manis. Aku heran kenapa kau menolaknya," Ia berhenti sejenak dan nyengir, tangan kanannya secara alami mulai melingkari pundak Kaidou dan membawanya mendekat, "Jangan sedih yah kalau gadis itu jadi berpaling pada--ittai!!!

Momoshiro memegang perutnya yang baru saja mendapat tonjokan maut dari rekan sesama junior yang tadi dirangkulnya. Ugh, kasar sekali. Momoshiro meringis kesakitan, pukulan Kaidou semakin kuat saja. 

"Hei, kenapa kau--" ucapan Momoshiro terhenti saat melihat ke arah Kaidou, hei, dia--blushing? Lagi? 

Dia mudah sekali blushing yah? pikir Momoshiro. 

"Berhenti bicara seperti orang bodoh, fshuuu," Kaidou berjalan meninggalkannya tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun. Tapi benar 'kan yang ia lihat tadi. Mamushi benar-benar blushing

"Oi! Mamushi! Kenapa dengannya?" 

Momoshiro menghela nafas, hah, dasar Mamushi, mungkin saja dia malu karena dirinya menyinggung tentang gadis itu. 

"Oh, gawat! aku harus segera ke lapangan!" Momoshiro pun bergegas menyusul Kaidou yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Ia tidak boleh terlambat atau Tezuka-buchou akan memberikannya hukuman lari 100 kali. Itu mimpi buruk. 

Hei, Momoshiro, bukankah kau dulu juga pernah melakukannya saat kau mangkir dari kegiatan klub selama 3 hari itu? 


The End 


Gaje?

Iya. Banget.

Tapi, izinkan saya mengatakan hal ini....

.

.

.

.

.

AAAAAAAAAAAAAAAA.... AKHIRNYA PUNYA FICT RIVAL PAIR TANPA MARI DI DALAMNYA!!!! KYAAAAAA MY LOVELY MOMOKAAAAII *peluk* #plak 

MomoKai 
Yak, seperti yang sudah kutulis di A/N. sebenarnya ini fict buat ultahnya Kaoru-chan loh... mihihi... tapi jadinya--sudahlah. 

Ayo, ayo, bisa menebak gak sih, maksud Akira Izumi menemui Momoshiro pagi itu??? dan kenapa Akira bertanya "Apakah kau Momoshiro Takeshi?" dan dia tersenyum sambil merona menatap Momo?

Yang jelas sih, Akira tidak menyukai Momo kok, tenang saja, hahahahaha... lalu, lalu, kenapa Kaoru-chan blushing saat Momoshiro mengatakan pendapatnya tentang gadis itu... hayo, hayoooo...

Mhuahahahahahaha

Kaidou: Fshuuuuu... jangan bicara macam-macam, Mari *jewer*

Ittatatatai! *usap telinga* Ih, memangnya kenapa sih, Kaoru-chan... mou... aku tidak akan bilang kok, pasti yang baca udah pada tahu alasan Akira Izumi menemui Momo... btw, kenapa Kaou-chan menolak Akira-san? Dia manis kok, aku kenal dia loh, hohoho..

Kaidou: Diam! cepat selesaikan tulisanmu!

Hai, hai,... Oh, jangan-jangan, Kaoru-chan menyukai orang lain yah, HAYO LOH!!!!

Kaidou: ...................... Urusai! Fshuuuu.

MIhihihihi... Kaoru-chan salting!!!! wahahahahaha....

Nak, gaje banget ;___;

Lain kali kita buat chap duanya deh yah, fufufufufu.. penasaran sih, ini gantung.... //KAN TULISAN ELU!!!

*ndlosor*

Oh, atau kita buat Point of View-nya Kaoru-chaaaaaannn... ahahahaha, ITU IDE YANG BAGUS!!!! Tapi gak janji selesainya kapan #digampar

Yosh... sebelum pamit, aku sebagai sahabat seorang Kaidou Kaoru mau mengucapkan HAPPY BIRTHDAY, KAORU-CHAAAAAAAAAAAAAANNNN... SAHABATKU YANG SANGAT MANIS, ADORABLE DAN UNYU MUMUMUMUMU. *tebar bandana*

Semoga semakin keren, semakin adorable, cepet dapat pacar *UHUK* dan permainan tenisnya juga makin hebat yah... Jangan suka marah-marah sama aku dong ;___; salahku apa sih, kenapa aku sering dimarahi *nangis di pundak Momo* (?)

Momo: Oi, lanjutkan ucapan ultahnya.

Oh iya, pokoknya sukses selalu buat Kaoru-chaaaaaann... aku sayaaaaaaanng banget loh sama kamu... dan Momo juga sayang kamu kok XD

Momo: ............ HAH?

Bwakakakakaka... kita berdua sayang Kaoru-chan kok, hohohoho

Momo: Che!

Ini hadiah untukmu, Kaoru-chaaaannnn
Happy Birthday, Kaoru-chan

Kaidou: *blush* A-arigatou, Mari...

Panggil aku pake chan dong... cuma kamu satu-satunya orang yang tidak pernah memanggilku begitu ;___;

Kaidou: Kau yang selalu memanggilku dengan suffix -chan dan aku mengijinkannya, kurang apa lagi hah?

Ebuset, blushing-nya langsung ilang T_____T

Kaidou: Kau satu-satunya orang yang kuizinkan memanggilku dengan chan, kau bahkan memanggilku begitu sejak kecil. Kau ini, fshuuu.

HEHEHEHEHE, HABISNYA KAORU-CHAN IMUT SIH XD Iya 'kan, Momo-chii??

Momo: Setuju, mihihihi

Kaidou: Diam kau, Idiot!

SUDAH JANAGN BERTENGKAAARR....

Yosh... terima kasih sudah membaca fict buatan Mari yah... terima kasih, ssstt... kalian juga, ayo ucapkan terima kasih dong!

Kaidou-Momo: Arigatou gozaimasuu!

JYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~

Saturday, 11 April 2015

Yamabuki's Craziness


"Ke Yamabuki Chuu?????"

Momoshiro berteriak kaget saat teman sekelasnya dengan wajah super memelas tiba-tiba meminta dirinya menemani ke Yamabuki nanti sepulang sekolah. Ia tahu kalau hari ini tak ada kegiatan klub makanya gadis yang menjabat juga sebagai sahabatnya itu meminta bantuannya siang ini.

Sementara gadis yang memintanya itu langsung mengangguk meskipun raut memelasnya tetap terpeta dari wajah dan itu demi apapun benar-benar membuat Momoshiro ingin tertawa tapi ia mencoba menahannya karena sepertinya kali ini temannya itu tidak main-main dan benar-benar membutuhkan bantuannya.

"Ada apa memangnya dengan Yamabuki?" pemuda bermata ungu itu akhirnya bertanya karena penasaran, ya, jelas saja ia penasaran... karena tidak biasanya sahabatnya yang super cerewet dan kadang merepotkan banget ini menyebut nama sekolah itu.

Mari—gadis yang memintanya tadi menghela nafas pendek dan manyun sejenak sebelum memutuskan untuk duduk di samping Momoshiro, ia menggumam tak jelas dan akhirnya menatap mata ungu milik sang sahabat.

"Hng? Doushite?"

"Jadi—kemarin aku membeli sesuatu—eerr—hehehe," gadis itu mulai bercerita tapi ia berhenti dan nyengir sejenak ke arah Momoshiro yang hanya bisa mengangkat alis, "Saat perjalanan pulang dari toko itu, tidak sengaja aku menabrak seseorang—"

"Nabrak, iya, itu sangat Mari sekali," potong Momoshiro dengan cepat, ia memutar matanya bosan.

"Moouuu... dengarkan duluuu...." sembur Mari tak terima.

"Hai, hai, lalu?" akhirnya Momo pun mengalah, ia kembali memasang telinganya baik-baik guna mendengar lanjutan cerita Mari.

"Pas itu tas belanjaanku dan tas belanjaan milik orang yang kutabrak itu berserakan di jalanan... dan karena malu dilihat banyak orang, akhirnya aku buru-buru mengambil tas belanjaan—yang kuyakini adalah milikku dan langsung pergi dari tempat itu."

"...." Momoshiro mengangguk-anggukan kepalanya sok paham saat mendengar cerita Mari, "Lalu? Apa masalahnya?" tanyanya entah untuk yang ke berapa kalinya.

"Nah, masalahnya ya setelah ituuu... saat aku sampai di rumah dan membuka belanjaanku, barang yang kubeli tadi jadi lain... huhuhu... dan saat aku kembali ke toko itu bersama Kaoru-chan dan mencari tahu tentang barang yang ada di tanganku, sang penjaga toko mengatakan barang itu pesanan dari salah satu pelanggan mereka yang bernama Higashikata Masami."

"....."

"Dan, Oishi-senpai mengatakan kalau Higashi—siapa tadi, yah itulah, ternyata siswa Yamabuki Chuu," Mari menutup ceritanya dengan helaan nafas panjang, "Nah, jadi begi—"

"Bhahahahahaha.... ahahahahahahaha," dan suara tawa dari Momoshiro pun memenuhi ruang kelas 2-8, ia memukul meja dengan tangannya berkali-kali dan masih saja tertawa.

"Moooooooouuuu... Kau ini puas sekali sih tertawanya, tidak lucu tahu!" bentak sang gadis tak terima.

Momoshiro berusaha sekuat tenaga menahan tawanya dengan menutup mulut tapi saat melihat wajah Mari yang tengah manyun dengan dua tangannya yang ia posisikan di pinggang itu mau tak mau membuatnya kembali tertawa dan akhirnya jitakan pun mendarat di kepala jabriknya dan sukses membuat tawanya berhenti, "Ittai!" pekiknya.

"Ih, Momo-chii menyebalkan!!!"

"Go-gomen gomen... ppfffttt—" Momoshiro mengusap kepalanya yang baru saja mendapat hadiah kecil dari sang sahabat dan kali ini ia nyengir kaku menatap gadis di depannya yang masih mengerucutkan bibir, "Hei, hei, aku hanya bercanda, jangan cemberut begitu dong, jelek tahu," ucapnya berusaha menghibur.

"Urusai!"

"Hai, hai, eh, tunggu... kenapa kau tidak meminta bantuan Mamushi sejak awal?" sang reguler Seigaku menggaruk pipinya, tak habis pikir juga, kan ada Kaidou?

Helaan nafas kembali terdengar dari Mari dan itu sedikit membuat Momoshiro bingung, gadis ini sering sekali menghela nafas yah?

"Reaksi Kaoru-chan tak ada bedanya denganmu."

Mendengar suara sang sahabat yang terlalu ngenes itu kembali membuat tawa Momoshiro yang sempat ditahannya meluncur mulus dari mulutnya, ia benar-benar tertawa sekarang ini, tak peduli ia akan mendapat pukulan atau jeweran dari Mari nantinya tapi ia benar-benar tidak bisa menahannya lagi.

"MOOOOOOOOOOOOOUUUUU.... MOMO-CHII NO AHOU!!!!!!!"


The Prince of Tennis: Takeshi Konomi 

Yamabuki's Craziness: Mari-chan  


"Hhh...." Mari benar-benar frustasi sekarang. Di tangannya ada tas berisi jaket pesanan dari siswa Yamabuki itu yang namanya sangat susah untuk diingat olehnya. Dan saat ini juga, ia tengah berjalan dengan tenang menuju sekolah orang tadi bersama dua sahabatnya, Kaidou Kaoru dan Momoshiro Takeshi. 

Tunggu, bukannya ia tadi hanya mengajak Momo? Lalu kenapa Kaoru-chan juga ikut?

Yah, saat tadi ia bertanya pada pemuda berbandana itu sih, ia menjawab karena pergi bersama Momoshiro itu penuh resiko dan ia tidak mau mau sesuatu yang buruk terjadi karena sudah jelas kalau terjadi sesuatu padanya, maka Kaidou lah orang pertama yang akan kena sembur dari Marco-san. Bukan hanya Marco-san, tapi juga Sabo-san, Shirohige-jiisan, Trafalgar Law dan ibunya sendiri, karena ia tidak bisa menjaga Mari

Alasan. batin Mari sweatdrop. 

Tapi baguslah, setidaknya ia merasa lebih aman bersama dua sahabatnya di sisinya.

Jujur, sebenarnya Mari tidak begitu ingat yang mana di antara anak-anak Yamabuki yang memiliki nama eerr—Higashikata—kalau tidak salah. Dan lagi, Yamabuki... ugh, sekolahnya orang genit itu... dan jangan lupakan Akutsu Jin yang juga bersekolah di sana.

Apakah semuanya akan baik-baik saja? Mari sedikit khawatir, ya bagaimanapun juga, kegagalan Yamabuki menjuarai Kejuaraan tingkat daerah juga karena kalah dari Seigaku. Jangan-jangan si Akutsu itu masih marah... hiiieeee...

Tuk!

Tepukan sekaligus usapan pelan di kepala sukses menyentakkan Mari dari lamunan singkatnya tentang anak-anak Yamabuki. Ia sedikit kaget sih, tapi ia sudah tahu siapa yang menepuk kepalanya.

Gadis ini pun menolehkan kepalanya ke sisi kanan di mana terdapat satu sosok yang baru saja menepuk kepalanya itu dan ia menggumam lirih, "Kaoru-chan?"

"Fshuuu... semuanya akan baik-baik saja," ujar Kaidou dengan nada tenang tanpa sedikitpun menatapnya dan Mari perlahan menguarkan senyumnya. Aaaah, cara sahabatnya ini menenangkan dirinya memang tak pernah berubah sejak mereka kecil.

"Ne, ne, ada aku juga loh, jangan lupakan itu." sahut Momoshiro yang ikut-ikutan mengepalkan tangannya seraya nyengir lebar.

Ahahaha, dua sahabatnya ini memang paling bisa diandalkan.

"Hai!" sahut Mari ceria.

********* 

***

********* 

Yamabuki Chuu 

Mari, Kaidou dan Momoshiro saling bertatapan saat ketiganya berada di depan gerbang sekolah yang bertuliskan Yamabuki itu. Mereka sudah sampai. Haruskah mereka masuk? 

Entah kenapa pikiran-pikiran aneh kembali menguasai otak Mari. Ia jarang sekali mengunjungi sekolah lain—satu-satunya sekolah yang pernah ia kunjungi adalah sekolah sang kakak—karena itu ia merasa sedikit—gugup. 

"Ayo masuk," ajak Momo, ialah yang pertama kali memasuki area Yamabuki dan diikuti oleh Kaidou. 

Buru-buru Mari mempercepat langkah untuk mengejar kedua sahabatnya itu. Mata hitamnya mulai memperhatikan sekolah yang baru saja ia masuki ini. 

Yamabuki Chuu memiliki gedung sekolah yang bagus, halamannya juga luas seperti halnya Seigaku. Tempat parkir pribadi milik para sensei juga luas. Sekolah ini terlihat nyaman. 

"Ne, bagaimana cara kita mencari Higashikata-san?" tanya Momo, ia masih berjalan dengan pelan menuju bangunan sekolah, mata ungunya juga belum beralih dari area Yamabuki yang nampak asing baginya. 

"Fshuuu, baka, Oishi-senpai mengatakan Higashikata-san itu anggota klub tenis, sudah jelas kita pergi ke lapangan tenis, fshuuu," jawab Kaidou. 

"Nani! Aku sudah tahu itu, Mamushi, maksudku, di mana letak lapangan tenisnya, baka!" Momoshiro berujar dengan nada yang mulai meninggi, ia menatap sang Rival dengan tatapan kesal. 

"Mana kutahu, ini kan pertama kalinya aku ke sekolah ini, Idiot!" balas Kaidou.  

"Nani? siapa yang kau panggil idiot!" dengan cepat Momoshiro menarik kerah baju milik Kaidou dan secara insting Kaidou juga melakukan hal yang sama. 

Perang deathglare pun tak terhindarkan, kenapa sih kedua orang ini mudah sekali tersulut emosi jika sudah terlibat obrolan? mungkin perkelahian keduanya akan berlanjut jika saja mereka tidak mendengar suara seseorang yang berteriak ke arah mereka. 

"Berhenti!!" 

Suara itu semakin terdengar jelas dan kedua junior Seigaku inipun akhirnya melepaskan kerah baju milik rival-nya saat sosok yang tadi berteriak itu mulai mendekati mereka. 

"Berhenti, desu!

Desu? 


********* 

*** 

********* 

"Nanda, Seigaku ka?" gumam seorang pemuda bertubuh kecil dan membawa sebuah buku berwarna biru di tangannya. Pemuda itu terlihat ngos-ngosan saat sampai di depan Momoshiro dan Kaidou. 

"Are?" pekik Momoshiro, ia memutar otaknya saat melihat sosok di depannya. Sosok di depannya ini tidak asing, ia ingat pernah melihatnya, tapi di mana? "Kau 'kan?" ia menggumam tak jelas. 

"Dan Taichi, desu, hai!" sahut pemuda dengan surai hitam kehijauan itu. Ia membungkukkan badannya ke arah Momo dengan sopan.

"Ah iya, Dan.. kau yang pernah bertanding melawan Echizen itu kan?" tanya Momoshiro lagi, ternyata memori otaknya lumayan juga. 

"Hai!" jawab Dan semangat. 

Dan saat Momoshiro masih sibuk dengan Dan, ia tidak menyadari gelagat aneh dari rival-nya—Kaidou—pemuda empat belas tahun itu dari tadi menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. 

"Lalu, kenapa kau berteriak tadi?" itulah pertanyaan yang harusnya Momoshiro tanyakan sejak pertama kali melihat Dan... bukannya melenceng ke Echizen segala. 

"Ah, hai! Sebenarnya akhir-akhir ini di sekitar sini ada rumor tentang penculikan desu... saya takut kalian itu para penculik itu, makanya saya menghentikan kalian, desu, hai!

Ini kok lama-lama kurang ajar yah? O.O 

Mendengar jawaban dari siswa Yamabuki kelas satu itu sedikit membuat emosi Kaidou meninggi, ia mendesis guna menahan emosinya, "Tapi kami bukan penculik," katanya geram. Ia kembali melihat ke sekelilingnya, terlihat raut khawatir juga dari wajahnya yang biasanya tenang. 

Bicara soal penculik... Ini sedikit membebani pikirannya sejak tadi... ia baru sadar kalau sahabatnya menghilang sejak ia mulai berkelahi dengan Momoshiro. Jangan-jangan benar di sini ada penculik dan penculik itu menculik Mari? 

Tapi sedetik kemudian Kaidou menggelengkan kepalanya, tidak mungkin. mana ada penculik yang mau menculik gadis cerewet dan super merepotkan macam Mari. Dalam Hati, Kaidou tertawa setan. 

JAHAT BANGET SUMPAH PIKIRANNYA KAORU-CHAAAN!!! OAO 

"Anoo—Kaidou-san mencari siapa desu?" 

Kaidou menatap Dan dengan pandangan akhirnya-kau-sadar-juga-kalau-aku-mencari-sesuatu. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan siapa yang tengah dicarinya sebelum ucapannya terpotong karena teriakan dari seorang. 

"EEEEEEEEEEHHHH??? DI MANA MARI???? JANGAN-JANGAN BENAR ADA PENCULIK DAN DIA MENCULIK MARI???" Momoshiro berteriak kencang saat menyadari sosok sahabatnya sudah tidak ada di sekitar mereka lagi. 

"Mari itu siapa desu, dari tadi saya hanya melihat kalian desu." 

KRIK!!!!! 

********* 

*** 

********* 

Seorang gadis kecil bersurai hitam panjang dan mengenakan jaket klub tenis Seigaku yang agak kebesaran terlihat berjalan dengan pelan menyusuri lorong-lorong kelas di Yamabuki. Ia menoleh ke kanan dan kiri tapi yang ia lihat hanya ruang kelas. 

Jadi, sudah bisa dipastikan kalau gadis ini nyasar di dalam sekolah. 

Bagus! 

Dan lagi, sejak kapan ia sudah ada dalam gedung sekolah? Padahal kan tadi ia berniat mencari lapangan tenis tapi kenapa jatuhnya ia malah berakhir di sini? Ce-cepat juga dia berjalan kalau buta arahnya kambuh. Jelas cepat, lha wong dia jalannya tanpa arah begitu. 

"Keren.. nyasar di sekolah orang lain... ya, tapi itu lebih manusiawi sih daripada nyasar di sekolah sendiri," Mari menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat ia ingat bahwa dirinya juga pernah nyasar di sekolahnya sendiri. memang parah sekali gadis ini. 

"Bagaimana ini?" gumamnya lesu. Ia terpisah dari dua sahabatnya dan ia juga tidak tahu berada di bagian mana dalam gedung sekolah ini. Dan yang terpenting, ia tidak mengenal satupun siswa-siswi Yamabuki, bagaimana caranya ia menemukan Higashi--itulah. Oh, Kami-samaa.... aku hanya ingin mengembalikan jaket, jangan siksa aku seperti ini. 

"Yosh, sudah kuputuskan!" Mari tiba-tiba mengepalkan tangannya, ia menyingsikan lengan jaket milik Kaidou yang ia pakai sejak pulang sekolah dan berujar lantang, "Aku akan bertanya tentang Higashi--siapapun itu namanya kepada orang yang pertama kali kutemui di sekolah ini. SEMANGAT MARI!!" Ucapnya. Kau masih waras 'kan, Nak? 

"Tapi, Kaoru-chan dan Momo-chii ke mana yah? Mereka jalannya lambat sekali padahal kan laki-laki... atau jangan-jangan mereka berkelahi? Ah, payah..." gadis ini mulai ngoceh tak jelas dengan masih menyeret langkahnya guna mencari satu sosok untuk ia tanyai. Satu sosok. 

Yah, berharap saja satu sosok yang akan ia temui nanti bukanlah Sengoku-san, apalagi Akutsu— 

Bruk! 

"Ittai!" Mari memekik kesakitan saat tubuh kecilnya tiba-tiba menabrak pintu, eerr-dinding? Eh, ia menabrak apa yah? Ia tahu kalau ia juga sering nabrak tapi perasaan tadi di depannya tidak ada pintu deh, apalagi dinding, masa iya ia jalannya tiba-tiba berbelok sendiri? 

"Hoi, kalau jalan pakai mata—Ha, Seigaku?" 

"......." bulu kuduk Mari meremang saat ia mendengar suara berat dan terkesan horor itu. Berarti yang ia tabrak tadi bukan pintu.. Iyalah, mana ada pintu yang bisa bicara? 

Sepertinya ia pernah mendengar suara sejenis ini sebelumnya, tapi di mana? Otak Mari yang sangat susah untuk mengingat pun dipaksa untuk memutar seluruh memorinya dan akhirnya ia mengingatnya. Ia mendengar suara ini saat pertandingan semifinal turnamen nasional, saat Taka-san bertanding melawan Ishida Gin-san dari Shitenhouji. 

Dan itu suara--

GLEK! 

Mari menelan ludahnya, sekujur tubuhnya merinding saat ia mendapatkan satu nama yang sangat cocok dengan suara itu. Akutsu Jin. HIIIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEE... Eh, tunggu dulu, kenapa ia bisa tahu kalau dirinya siswi Seigaku. 

'Sial.' 

Gadis tiga belas tahun ini sukses mengutuk dirinya sendiri dan juga sang sahabat yang dengan senang hati memaksanya memakai jaket Seigaku Reguler miliknya. Oh... bagus sekali... kebaikan hati dari pemilik tekhnik snake itu lama-lama menjadi boomerang juga bagi dirinya. Mari ingin menangis. 

"Sedang apa siswi Seigaku ada di Yamabuki?" 

Suara itu terdengar lagi dan demi rambut Momoshiro yang jigrak dan aneh, Mari benar-benar merasa kalau dirinya sedang ditanyai oleh malaikat maut T_T ia merasa kalau suaranya juga sama takutnya dengannya sehingga suaranya tidak mau keluar dari kerongkongannya dan bersembunyi entah di mana. Mari yang kesulitan menemukan di mana suaranya akhirnya hanya bisa diam. Ia masih duduk di lantai lorong kelas. 

Ia bukannya tidak mau bangun, tapi ia terlalu takut untuk bertatap muka dengan pemuda tinggi dengan rambut jabrik itu. Tapi tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Kalimat yang ia ucapkan tentang orang yang ia temui itu dan juga--

OH NO! Apakah ini berarti, dia harus bertanya pada Akutsu Jin? 

Gawat, ini gawat, ini gawat! Demi Inui-senpai dan jus-jus absurd buatannya, demi Tezuka-senpai dan hukuman larinya yang kadang tidak masuk akal. Ia rela keliling lapangan tenis Seigaku ratusan kali dan meminum Penal Tea atau Aozu setelahnya oh ralat, maksudnya, ia akan meminta bantuan Kaoru-chan dan Momo untuk lari dan Fuji-senpai untuk meminum Penal Tea-nya daripada melakukan hal itu. Ia bisa mati berdiri karena takut! 

MARCO-JICHAAAAAAAAAAAAAN!

"Oi!" 

Tepukan pelan mendarat di pundak kecil sang gadis yang masih terduduk lemas di lantai, dan saat ia tahu benar siapa yang tengah menepuknya, Mari pun spontan menjerit karena kaget dan takut, "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA-MPPHHH!" tapi jeritannya tak bertahan lama karena tangan milik Akutsu segera membekap mulutnya. 

"Heh, kau ini berisik sekali, aku tidak akan melakukan apapun padamu, keh," dan Mari merasakan tangan Akutsu yang sedari tadi membekapnya sedikit demi sedikit melepaskannya. 

"Kau kouhai-nya Kawamura 'kan?" 

Mendengar Akutsu menyebut nama salah satu senpai-nya membuat perasaan takut Mari perlahan sirna dan ia pun mulai menguasai dirinya sendiri. Gadis ini mulai bangkit dari jatuh duduknya dan kali ini ia berdiri tepat di depan Akutsu. 

"Heh, kau ketakutan sampai wajahmu pucat atau apa, hah?" 

"I-ie, aku baik-baik saja, hai!" Mari menjawab dengan cepat dan membungkukkan badannya entah karena apa. 

"Hahahahahahaha." 

"...." gadis kelas dua Seishun Gakuen ini sukses menganga begitu melihat sosok Akutsu yang malah tertawa di depannya. Hah, apa yang terjadi? Kenapa dia tertawa seperti itu? KAORU-CHAN, MOMO-CHII TOLONG AKUUU!! 

********* 

*** 

********* 

"Hehehehe.... hehehehe," Mari pasti terlihat seperti orang gila sekarang. Ia nyengir-nyengir tak jelas di sepanjang lorong kelas yang tadinya ia jajaki sendirian dan kali ini ia tidak sendirian. Ia berjalan bersisian dengan pemuda tinggi dengan rambut aneh dan keliatan galak itu. Di sekeliling mereka, anak-anak Yamabuki memperhatikan tanpa berkedip. 

Mungkin mereka heran, dan berpikir 'Siapa anak kecil yang bersama Akutsu dan mengenakan jaket kegedean itu?' ya lah, terserah kalian. 

"Anoo--Akustu-san?" 

Jiitt! 

Tatapan tajam dari sosok yang baru saja dipanggil itu menghujani Mari, gadis bersurai hitam panjang ini menelan ludahnya gugup dan menundukkan kepala sejenak. Ugh, ia sudah sering mendapat tatapan tajam dari Kaoru-chan, tapi yang ini lain. Marco-jichaaaaan tolong Mari... 

Tapi ia sudah bertekad 'kan? Ia bertemu dengan Akutsu Jin, mungkin saja dia bisa membantunya mengembalikan jaket di tangannya ini. Dan lagi, ingatlah sebuah pepatah, Mari... Malu bertanya maka kau tidak akan bisa pulang. ITU PEPATAH DARI MANA!!! 

"Nani!" Akutsu menjawab datar. 

Oh, runtuh sudah tekad Mari yang hanya sebesar biji jagung, ia benar-benar ingin menangis. Huhuhu... Orang di depannya ini sangat menyeramkan, mendengar suaranya saja sudah membuatnya merinding begini. 

"Ettoo," gadis ini mengusap helaian hitamnya karena gugup, ia masih belum berani menatap Akutsu, "Se-sebenarnya saya sedang me-mencari seseorang yang bernama--eerr--" sebentar, tadi siapa nama orang yang ia cari yah? OH BAGUS, SEKARANG IA MELUPAKAN NAMA ORANG YANG SANGAT INGIN IA TEMUI DI YAMABUKI! 

"....." 

Hening tercipta. Mari masih sibuk mengutuk kinerja otaknya yang tiba-tiba melambat karena ketakutan dan Akutsu yang juga masih diam. Entah dia diam karena apa? Mari jelas tidak tahu. 

"Kau ini merepotkan, ayo ikut aku!" ujar Akutsu setelah sempat diam tadi, ia berjalan dengan cepat dan meninggalkan Mari yang masih bengong di tempatnya. Gadis ini memperhatikan punggung tegap Akutsu yang mulai menjauhinya. 

"Heh, Kouhai-nya Kawamura, kau dengar tidak?" 

"Eh, ha-hai!" Mari pun menyusul langkah Akutsu yang berada tak jauh di depannya. 

Sebenarnya ia mau diajak ke mana? OAO 

********* 

*** 

********* 

Otak Mari seakan dipaksa keluar dari kepalanya saat semua hal yang membingungkan ini terjadi padanya. Saat ini, ia tengah berdiri di depan sebuah ruangan yang sepertinya ruang siaran. Di sampingnya masih ada Akutsu Jin yang berdiri tenang dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celananya. 

"Ini--" Mari menggumam heran. 

"Kau mencari seseorang 'kan, di dalam ada yang bisa membantumu, cepat masuk!" kata Akutsu dengan nada agak keras. 

"Di-di dalam?" ulang Mari. 

"Cepat masuk!" teman masa kecil dari salah satu senpai Mari itu kembali memerintah dan tanpa membuang waktu lagi, Mari pun mengangguk paham dan segera mendekat ke arah pintu ruang siaran. 

"A-arigatou, A-akutsu-san, hehehe." 

"Jangan tersesat lagi," setelah mengatakan hal itu, Akutsu pun berjalan santai meninggalkan Mari yang kembali bengong. Heh, awas kesambet. 

"Akutsu-san baik juga ternyata," junior Seigaku ini menggumam lirih dan ia membungkukkan badannya sejenak ke arah menghilangnya Akutsu dan mulai mengetuk pintu ruang siaran. 

"Masuk." 

********* 

*** 

********* 

"Konnichiwa... nama saya Fujisaki Mari... gomen mengganggu, tapi saya benar-benar butuh bantuanmu," ucap Mari begitu ia menemukan sosok pemuda tengah duduk di sebuah kursi dengan monitor dan alat siaran lainnya di depannya. 

"Seigaku?" pemuda itu menggumam saat melihat pakaian yang dikenakan oleh Mari. 

"Hai, hai, saya siswi Seigaku," sergahnya bosan. Terkenal sekali sih sekolahnya ini. 

"Lalu, ada masalah apa?" pemuda yang mengenakan kacamata google itu bertanya dengan datar dan mulai mengutak atik apapun itu tombol di depannya. 

"Jadi, saya kemari ingin memberikan jaket milik salah satu siswa di sini, kemarin saya tidak sengaja menabraknya dan membawa pulang jaketnya, bisa minta tolong carikan orang itu kan? Ah, saya baru ingat kalau saya melupakan namanya, hehehe." 

"......" 

"Summimasen... saya benar-benar tidak ingat, ugh... saya bertaruh semuanya pasti salah Akutsu Jin, karena dia saya lupa nama pemilik jaket ini, tapi namanya memang susah sih, ahahaha." 

PLAK! 

Pemuda yang bahkan belum Mari ketahui namanya itu memukul pipi kanannya sendiri. Kenapa dia? O.O 

"Eh? dajobu desu ka? jangan memukul dirimu sendiri, eh?" siswi Seigaku ini berujar khawatir, pasalnya baru kali ini melihat seseorang memukul dirinya sendiri, ia sering melihat Kaoru-chan dan Momo-chii berkelahi tapi mereka kan tidak memukul diri sendiri? Lha ini? 

Hei, hei, kau pikir ini salah siapa? 

"Ne, ne, kau bisa membantuku 'kan? Err--" 

"Muromachi Touji, kelas 2." 

Wajah Mari langsung berbinar mendengar ia menyebutkan namanya dan juga kelasnya, apalagi dia sesama junior sepertinya, ini akan menyenangkan... 

"Waiii... sama dong, aku juga junior loh..." pekiknya semangat dan langsung merubah 'saya' menjadi 'aku' begitu tahu bahwa pemuda itu seumuran dengannya, "jadi, Muromachi-kun bisa membantuku kan? Aku ingin mengembalikan jaket ini--" 

"Tapi kau tidak ingat siapa nama pemilik jaket itu dan kau ke sini untuk meminta bantuanku menyiarkannya ke penjuru sekolah supaya pemilik jaket itu bisa datang ke sini dan bertemu denganmu, begitu?" 

Mari sempat terdiam mendengar junior Yamabuki itu menyahut cepat dan sesuai dengan yang ia harapkan, "Hai! bisa membantu kan?" 

Muromachi mengangguk sekilas dan mulai mengutak-atik apapun itu benda yang ada di depannya, "Kita coba saja," katanya. 

"Arigatou~~~" Mari kembali memekik dengan riang gembira, ia segera mendudukkan dirinya pada kursi yang tepat berada di depan Muromachi yang masih sibuk sendiri. 

"Ne, kau sering siaran di sini yah?" tanya sang gadis, ia menyangga dagunya dengan kedua tangan dan mata hitamnya masih terfokus ke tangan-tangan terampil milik Muromachi. 

"Tidak." 

"EEEEEEEEEEEHHH?? Tidak? Kenapa? Kau terlihat sangat menguasai alat-alat itu." 

"Aku dari klub tenis," jelas sang pemuda dengan singkat dan itu membuat Mari mengangkat alisnya heran. 

"Masa sih? kok tidak meyakinkan kalau kau bisa bermain tenis?" 

"Kau sadar tidak ucapanmu itu menohokku." 

"Eh, ahahaha, gomen...." 

Tanpa diduga, mereka cepat akrab yah? O____O 

******** 

*** 

********* 

"Konnichiwa, Minna-san... Siapapun yang mendengar berita ini,tolong beritahukan kepada siapapun yang merasa bahwa dirinya telah kehilangan sebuah jaket karena insiden tabrakan kemarin, dimohon untuk segera menuju ke ruang siaran, jaket anda saat ini ada di tangan orang coretanehcoret yang saat ini bersamaku. Tolong secepatnya ke sini atau anda akan melihatku gila setelah tugas siaranku selesai. arigatou. Muromacho Touji, kelas 2, menyiarkan langsung dari tempat kejadian perkara." 

"......." Mari hanya bisa sweatdrop level dewa di kursi tamu ruang siaran saat mendengar Muromachi selesai menyiarkan tentang dirinya. Terdengar aneh dan kalau orang yang mendengarnya kurang pintar pasti akan bingung, "Anoo--Muchi-kun, kenapa siaranmu aneh sekali?" tanyanya heran, ia tanpa sadar menggaruk rambut panjangnya. 

"Hei, sejak kapan namaku jadi Muchi hah?" junior Yamabuki langsung protes begitu ia mendengar namanya berubah jadi aneh begitu. Ia juga terlihat ngos-ngosan tak jelas. Ia baru beberapa menit bersama gadis bernama Mari ini tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dirinya hampir gila. 

Gadis ini dari tadi ngoceh tak jelas di depannya dan kebanyakan tidak penting. Seperti halnya saat ia menceritakan tentang dua sahabatnya yang Muromachi tahu salah satu dari mereka pernah mengalahkan salah satu senpai-nya, Sengoku. O.O 

"Hehehe, namamu terlalu panjang, Muchi 'kan lucu, hehehe." 

'Kami-sama, ini benar-benar menyebalkan, ini bahkan lebih menyebalkan daripada melihat Sengoku-san menggoda para gadis.' batin anggota reguler Yamabuki ini, akhirnya ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, "Sudahlah, aku pusing mendengar ucapanmu, kita tunggu saja, cepat atau lambat pemilik jaket itu pasti akan datang ke sini." 


********* 

*** 

********* 

BRAK!!!! 

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" 

Mari dan bahkan Muromachi serentak berteriak saat pintu ruang siaran tiba-tiba dibuka dengan sangat kencang sehingga menimbulkan suara yang membuat dua junior ini kaget luar biasa. Mereka menutup kepala dengan tangan masing-masing dan menunduk takut. 

"MARI!" 

"MUROMACHI-KUN!

"SEDANG APA KAU DI SINI!" 

"APA MAKSUD SIARANMU, ANAK MUDA!!" 

"JAKETKUUUUUU!" 

Teriakan demi teriakan memenuhi ruang siaran yang awalnya sunyi, tentu saja hal ini membuat Mari dan Muromachi heran. 

Ruang siaran yang tadinya hanya berisi dua orang itu mendadak penuh sesak oleh manusia. Ada yang mengenakan seragam Seigaku (ah, kalau itu sudah jelas kedua sahabatnya) ada yang mengenakan jersey Yamabuki, bahkan Mari juga melihat ada satu sosok guru di antara mereka. 

Ada apa ini? 

Mari perlahan berdiri dari kursinya dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi, "Doushite minna?" 

"BAKA! KAU MEMBUAT KAMI KHAWATIR!" 

Bentakan super itupun membuat Mari bungkam, huhu, mereka tetap saja membentaknya, "Gomennasai," ucap Mari seraya membungkuk singkat. 

"Muromachi-kun, siaranmu barusan membuat kepala sekolah tersedak sushi!

"Eh, hountou? Maa, summimasen, sensei," respon Muromachi datar. 

"Jaketku, jaketkuuuuu." 

Ini kenapa rusuh begini? 

********* 

*** 

********* 

"Summimasen," Mari dan kedua sahabatnya membungkuk sopan kepada salah satu sensei yang tadi memarahi Muromachi tentang siaran itu, apa katanya tadi, kepala sekolah mereka tersedak sushi. Pppfftt-- 

"Daijobu, ahahaha, kamu jujur sekali mau mengembalikan barang yang bukan milikmu yah, bagus, bagus..." pria paruh baya itu menepuk pundak Mari penuh bangga dan hanya dibalas cengiran kaku sang gadis. 

"Maaf sudah membuat sekolah ini kacau sejenak," kata Mari, ia memundurkan langkahnya guna menghindari tepukan sang sensei karena lama-lama tepukan itu sakit juga. 

"Sudah biasa kok, sekolah ini kacau setiap harinya,"celetuk Muromachi yang langsung mendapat tatapan diam-kau-anak-muda-kau-masih-harus-bertanggung-jawab-atas-siaran-tadi dari sensei

"Ahahahaha," Mari tertawa garing mendengar celetukan teman barunya itu, kali ini ia menuju ke satu sosok yang dari tadi ia cari-cari--Higashikata Masami--akhirnya ia ingat nama pemuda itu, "Anoo, Higashikata-san, summimasen sudah membawa jaketmu seenaknya." 

"Tidak apa-apa, arigatou juga sudah mengantarkannya." 

"Hai,... kalau begitu kami permisi..." ketiganya kembali membungkuk sopan dan mulai meninggalkan sekolah yang sempat mereka kacaukan itu. Tapi baru beberapa langkah, Mari kembali berbalik, ia melambaikan tangan kanannya dan berteriak kencang, "Muchi-kun, arigatou na... katakan pada Akutsu-san juga, arigatou~" 

"Hai, hai, pergi sana," jawab Muromachi, ia tersenyum menatap kepergian gadis yang tadi sempat bersamanya itu, gadis itu lucu tapi sedikit aneh dan sangat berisik... tapi Muromachi merasa kalau bersamanya itu menyenangkan.

********* 

*** 

********* 

"Muchi? namanya Muchi? nama yang aneh," gumam Momoshiro saat ketiganya berjalan pulang dari Yamabuki chuu. Ia sepertinya pernah melihat orang tadi, tapi di mana yah? Benarkah namanya Muchi? 

"Namanya Muromachi Touji, tapi terlalu ribet, ya sudah kuputuskan memanggilnya Muchi, lucu kan?" 

"........" Kaidou dan Momoshiro terbengong mendengar alasan sahabat mereka memanggil pemuda itu seperti--itu. Serius, lama kelamaan, sifat Mari yang hobi memberikan panggilan aneh kepada orang-orang di sekitarnya itu makin parah. 

Seperti halnya saat ia memanggil Tezuka-buchou 'Alien' dan membuat kapten berkaca mata itu memberikan hukuman lari keliling lapangan 50 kali dan tentu saja Kaidou dan Momoshiro yang menggantikannya. 

Yang mencari masalah siapa dan yang mendapat hukuman siapa? 

"Sudahlah, tidak penting, oh iya, kalian lapar? aku lapar nih, kita makan yuk?" tawar Momoshiro, ia memegangi perutnya yang sepertinya benar-benar minta di isi. Pasti ia kelaparan karena teriak-teriak mencari Mari. 

"Maaaauuu... Momo-chii yang traktir kan? asik.. Kaoru-chan mau makan apa?" Mari menjawab semangat, ia menarik lengan sahabat dari kecilnya itu untuk berjalan lebih cepat. Meninggalkan Momo yang masih terbengong. 

"Ramen," ucap Kaidou pelan. Ia hanya menurut saja ditarik-tarik oleh Mari. 

"Ramen... boleh... ayoo.. Momo-chiii~" kok sepertinya malah gadis ini yang semangat sekali. 

"HEEEEEEEIII... KENAPA AKU YANG MENTRAKTIR KALIAN, HA?" Momoshiro berteriak tak terima, ia berlari menyusul dua temannya yang berada beberapa meter di depannya. 

Mari dan Kaidou menoleh bersamaan lalu menyeringai, "Sudah jelas 'kan, karena kau yang mengajak kami." 

"....LINTAH DARAT! DAN MAMUSHI, KENAPA KAU JUGA IKUT-IKUTAN DIA!!" 

"Fshuuu." 

"KALIAN MEMANG MENYEBALKAN... TAHU BEGINI AKU TIDAK AKAN MENGAJAK KALIAN!" 

The End 

HIAAAAAAAAAAAAAAAAA.... AKU TAHU CERITANYA GAK JELAS, SUMMIMASEEENNNN *makan coklat* #woi 

Sebenarnya ini sudah pernah kutulis di fb sih... tapi aku edit lagi dikit, ahahahaha... dan seperti biasa, gak afdol kalau gak ditulis di sini :D 

Sudah yah, gak mau ngomong panjang lebar.. oh iya... sebenarnya aku dibuatin fanart unyu loh sama temenku, namanya Kaori-chan... itu fanart tentang Mari, Kaoru-chan dan Momo-chii.. 

Pas itu aku nanya, boleh gak, gambar ini aku jadiin ava di akunku? Dia bilang boleh, gambar ini punyamu kok, dan aku jelas seneng banget dong >/////< 

Tapi pas kucoba, ternyata gak bisa jadi ava :v karena gambarnya terlalu gede orz :'( 

Ya sudah... akhirnya aku upload di sini saja yaaahhh.... ini diaaa.... 
Mari and The Rival Pair
Duh... wkwkwkwkwk... Kaori-chan bilang gambarnya agak gagal sih, tapi apapunlah, gambar kaya gitu dibilang gagal T_____T itu keren :'') Mari-nya keliatan kecil banget... tapi emang kenyataannya aku kecil sih yah, wkwkwkwk.... 

Ngomong soal Kaori-chan.. kalau mau kenalan sama dia, bisa loh temui dia di  Facebook  HOKEEEHHH.... 

Sudah yah, saya capek T____T jaaaaaaaaaaaa..... *winks* 
Powered By Blogger

Translate

Awesome Inc. theme. Powered by Blogger.